Dari Bengkel ke Mimbar: Kisah Aditya, Siswa SMK Swadhipa Natar Jadi Khatib Sholat Idulfitri

Muhammad Aditya Pratama (ke-empat dari kiri) berphoto usai shalat Ied bersama petugas shalat ied dan takmir Masjid. Photo: Dok. Pribadi

PESAWARAN | LAMPUNGKU.COM – Suasana pagi Hari Raya Idulfitri pada Sabtu, (21/3/2026) di Masjid Jami Nurul Hidayah, Desa Negeri Ulangan Jaya, Kec. Negeri Katon, Kab. Pesawaran, tahun ini terasa sedikit berbeda. Di antara jamaah yang memadati halaman masjid, sosok khatib yang berdiri di mimbar bukanlah ustadz senior seperti biasanya, melainkan seorang pelajar SMK.

Dia adalah Muhammad Aditya Pratama, putra tunggal pasangan Nana Widodo dan ibu Rohila (alm) ini merupakan siswa kelas XII jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dari SMK Swadhipa 2 Natar.

Bacaan Lainnya

Di usianya yang masih belia, Aditya tampil percaya diri menyampaikan khutbah Idulfitri di hadapan ratusan jamaah. Pilihannya untuk menjadi khatib bukan karena ditunjuk, melainkan berangkat dari keinginan pribadi.

“Awalnya memang keinginan sendiri. Saya mengajukan diri,” ujar siswa yang saat ini tinggal bersama kakek nya Usman dan neneknya Rumtoni.

Keputusan itu tentu bukan tanpa alasan. Aditya menyadari bahwa menjadi khatib bukan hanya soal berdiri dan berbicara, tetapi juga tanggung jawab menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan dan membangun.

Menariknya, kemampuan Aditya tidak didapat dari pendidikan formal khusus. Ia belajar secara otodidak.

“Belajar sendiri saja,” katanya.

Meski demikian, kepercayaan dari pengurus masjid yang juga guru ngajinya, Ustadz Basri akhirnya datang. Menurutnya, hal itu mungkin karena ia dinilai memiliki kesiapan, baik dari sisi pengetahuan agama maupun kemampuan berbicara di depan umum.

“Barangkali mereka melihat saya sudah punya kemampuan yang cukup, dan ini juga bagian dari regenerasi,” tambahnya.

Latar belakangnya sebagai siswa jurusan teknik kendaraan ringan tak menghalangi langkahnya untuk aktif dalam kegiatan keagamaan. Dari keseharian yang akrab dengan mesin dan peralatan bengkel, Aditya mampu bertransformasi menjadi sosok yang berdiri di mimbar, menyampaikan pesan spiritual di hari yang suci.

Bagi Aditya, menjadi khatib bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga proses pembelajaran.

“Ini bisa meningkatkan kepercayaan diri dan melatih kemampuan berbicara di depan umum,” ungkapnya.

Sebenarnya Aditya tidak sendiri, Masjid memang memberikan kepercayaan kepada anak muda untuk menjadi petugas shalat Ied. Imaam shalat Ied diamanahkan kepada Rendi Febriyansyah Kelas XII SMA Swadhipa. Bilal nya dipercayakan kepada Raka Al-farel kelas XII SMA Muhammadiyah Bandar Lampung,

Kisah Aditya menjadi gambaran bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk mengambil peran di tengah masyarakat, termasuk dalam bidang keagamaan. Dengan keberanian dan kemauan belajar, batasan usia maupun latar belakang bukanlah penghalang.

Di momen Idulfitri yang penuh makna, kehadiran Aditya di mimbar Masjid Jami Nurul Hidayah menjadi simbol harapan—bahwa estafet dakwah akan terus berlanjut di tangan generasi muda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *