Dosen dan Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Terima Hibah BIMA Kemdiktisaintek 2026

BANDAR LAMPUNG | LAMPUNGKU.COM – Di tengah arus digitalisasi layanan publik yang kian deras, bahasa menjadi jembatan penting antara negara dan masyarakat. Dari layar gawai hingga portal resmi lembaga, istilah-istilah administratif kini tak jarang berkelindan dengan bahasa asing—terutama Bahasa Inggris.

Fenomena ini yang coba dibedah secara mendalam oleh seorang mahasiswa magister di Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Lampung melalui sebuah penelitian yang tak hanya relevan secara akademik, tetapi juga menyentuh kepentingan publik secara luas.

Adalah Teovany Rahmawely, mahasiswa Program Studi Magister Bahasa Inggris, Fakultas Sastra dan Ilmu Pendidikan, Universitas Teknokrat Indonesia, yang tengah menapaki fase penting dalam perjalanan akademiknya.

Bersama dosennya, Assoc. Prof. Dr. Laila Ulsi Qodriani, S.S., M.A., ia berhasil meraih pendanaan hibah penelitian BIMA (Basis Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) untuk Penelitian Tesis Magister dari Kemdiktisaintek tahun 2026. Demikian keterangan yang diterima Lampungku.com Selasa (14/4/2026).

Penelitian yang diusung mengangkat judul “The Globalization of Administrative Language: Analisis Resepsi Istilah Bahasa Inggris dalam Digitalisasi Layanan KPU dan Implikasinya terhadap Literasi Politik Masyarakat.” Sebuah tema yang tampak akademis, namun sesungguhnya sangat dekat dengan realitas sehari-hari masyarakat Indonesia.

Di era ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengandalkan platform digital untuk menjangkau pemilih, pilihan bahasa menjadi krusial. Istilah seperti dashboard, verification, atau real count kerap muncul dalam layanan digital.

Pertanyaannya, sejauh mana istilah-istilah tersebut dipahami oleh masyarakat luas? Apakah justru meningkatkan literasi politik, atau malah menciptakan jarak baru antara sistem dan publik?

Melalui penelitiannya, Teovany ingin menjawab kegelisahan tersebut. Ia menelusuri bagaimana masyarakat “menerima” (resepsi) istilah-istilah berbahasa Inggris dalam konteks layanan publik, khususnya yang disediakan oleh KPU. Tidak hanya itu, penelitian ini juga berupaya mengukur dampaknya terhadap tingkat literasi politik masyarakat—sebuah indikator penting dalam kualitas demokrasi.

Bagi Teovany, penelitian ini menjadi lebih dari sekadar tugas akhir. Ia melihatnya sebagai langkah strategis untuk menyelesaikan studi tepat waktu dengan kualitas terbaik, sekaligus mengasah kompetensi riset dan penulisan ilmiah. Lebih jauh, ia berharap karyanya dapat memberi dampak nyata—khususnya dalam meningkatkan literasi politik masyarakat.

Sementara Dosennya Assoc.Prof Laila menegaskan bagi dunia akademik, penelitian ini diharapkan memberi kontribusi ilmiah yang kuat di persimpangan antara kajian bahasa dan kebijakan publik. Tidak hanya berhenti pada analisis, hasil penelitian ini juga ditargetkan menghasilkan publikasi bereputasi serta rekomendasi konkret bagi peningkatan kualitas bahasa administrasi dalam layanan publik.

Kolaborasi antara mahasiswa dan dosen ini pun mencerminkan semangat riset yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga kebermanfaatan sosial. Di tengah tantangan demokrasi digital, penelitian seperti ini menjadi penting—mengingatkan bahwa di balik kecanggihan teknologi, ada satu hal mendasar yang tak boleh diabaikan: bahasa yang dapat dipahami semua orang.

Pada akhirnya, upaya kecil dari ruang akademik ini bisa menjadi pijakan bagi perubahan yang lebih besar—menuju layanan publik yang tidak hanya modern, tetapi juga inklusif dan memberdayakan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *