LAMPUNG SELATAN | LAMPUNGKU.COM – Tidak semua orang memilih jalan yang sunyi untuk memberi dampak. Sebagian ingin terlihat, sebagian lagi cukup bekerja dalam diam. Havez Annamir tampaknya berada di antara keduanya—ia bergerak tanpa banyak sorotan, tetapi jejaknya terasa. Dari Natar, Lampung Selatan, ia merajut dua dunia sekaligus: birokrasi negara dan gerakan sosial anak muda.
Lahir pada 18 April 1995, hidup Havez tidak melompat tiba-tiba menjadi “pegawai teladan.” Ia bertumbuh dari proses panjang yang barangkali juga dilalui banyak anak muda lainnya—sekolah, organisasi, dan pencarian jati diri.
Di SMAN 1 Natar, ia aktif di OSIS. Di lingkungan masjid, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Risma Nurussalam. Ketika menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung, ritme itu tidak berubah. Ia masuk dalam lingkaran aktivisme kampus: Sekretaris Umum FOSSI Fakultas Hukum dan kemudian Menteri Sosial Politik BEM Unila. Dari sini, satu hal terlihat jelas: Havez tidak nyaman jika hanya menjadi penonton.
Namun, yang membedakan Havez bukan sekadar riwayat organisasinya. Ada kegelisahan yang ia rawat lama—tentang anak muda yang punya potensi, tetapi sering kehilangan arah. Tentang pendidikan yang belum sepenuhnya menyentuh karakter. Tentang literasi finansial yang masih dianggap hal “orang dewasa.” Dari kegelisahan itu, lahirlah Ruang Sosial pada 2017.
Ruang Sosial bukan komunitas yang gemerlap. Ia tumbuh perlahan, dari pertemuan kecil, diskusi sederhana, hingga kegiatan yang menjangkau ratusan anak. Hingga hari ini, lebih dari 650 anak di Lampung pernah terlibat, didukung oleh lebih dari 300 relawan.
Angka-angka itu penting, tetapi bukan yang utama. Yang lebih penting adalah perubahan cara berpikir—bagaimana anak muda mulai memahami nilai uang, mengenal tanggung jawab, dan berani merancang masa depan.
Di sana, Havez tidak berdiri sebagai “pendiri” yang berjarak. Ia hadir sebagai teman diskusi, mentor, kadang juga pendengar. Ia tahu, perubahan tidak lahir dari ceramah panjang, tetapi dari kedekatan dan keteladanan. Ia menghindari bahasa yang rumit, memilih cara yang sederhana, agar pesan bisa sampai tanpa terasa menggurui.
Menariknya, semua itu berjalan beriringan dengan kariernya di pemerintahan. Pernah menjadi Ketua Bumdes Negararatu Natar Lampung Selatan pada 2019-2020, Havez memahami denyut ekonomi dari level desa.
Lalu pada 2021, Allah takdirkan ia diterima menjadi ASN di Kementerian Keuangan sebagai staf. Saat menjadi CPNS, Havez sudah mulai menampakkan prestasinya ketika mendapatkan penghargaan sebagai peserta dengan Aktualisasi Terbaik Peringkat I dengan Judul Aktualisasi: Monitoring Laporan Hasil Kerja atas Pelaksanaan Anggaran oleh Satker Kanwil DJPb di Provinsi DKI Jakarta dengan Aplikasi Weker.
Penghargaan tersebut dia dapat saat Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Distance Learning dalam Keadaan Darurat atau Keadaan Tertentu) Angkatan I Tahun Anggaran 2021 yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan pada tanggal 3 Mei 2021 sampai dengan 17 September 2021.
Kariernya berkembang terus sejak Havez menjadi PNS sebagai staf di Kemenkeu hingga pada 2023 ia dipercaya menjadi Project Manager di Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Kemenkeu. Kini, ia bertugas sebagai Analis Perbendaharaan Negara Kemenkeu.
Di titik inilah, banyak orang mungkin memilih fokus sepenuhnya pada karier. Tetapi Havez tidak. Ia tetap menjaga “api kecil” yang ia nyalakan sejak 2017. Baginya, pekerjaan adalah tanggung jawab, sementara pengabdian adalah panggilan. Keduanya tidak saling meniadakan bahkan bisa berjalan beriringan.
Pengakuan datang, meski bukan itu yang ia kejar. Tahun 2023, ia dianugerahi sebagai Pegawai Teladan di Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan. Sebuah penghargaan yang tidak hanya menilai kinerja di balik meja, tetapi juga dampak nyata di luar kantor.
Di tahun yang sama, ia juga mendapat nominasi Nagara Dana Ksatria Inspirasi bersama 5 karyawan lain di tingkat kementerian—sebuah pengakuan atas kontribusinya yang melampaui peran formal.
Menariknya, alasan di balik penghargaan itu justru kembali ke akar: aktivitas sosialnya. Apa yang ia bangun di Ruang Sosial menjadi bukti bahwa seorang pegawai negara tetap bisa hadir di tengah masyarakat, bukan sekadar sebagai pelayan administratif, tetapi juga sebagai agen perubahan.
Di berbagai kesempatan, Havez juga kerap berbagi cerita sebagai pembicara seminar kepemudaan dan mentor bagi komunitas sosial di Lampung. Namun, ia tidak datang dengan narasi “motivasi kosong.” Ia lebih sering bercerita tentang proses—tentang jatuh bangun, tentang konsistensi, tentang bagaimana hal kecil jika dilakukan terus-menerus bisa menjadi sesuatu yang besar.
Kisah Havez mungkin tidak terdengar dramatis. Tidak ada momen viral atau lonjakan instan. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia menunjukkan bahwa perubahan bisa dibangun dari hal-hal sederhana, selama ada ketekunan dan arah yang jelas.
Dari Natar, ia mengirim pesan yang tenang namun dalam: bahwa menjadi berarti tidak harus menunggu besar. Cukup mulai, cukup konsisten, dan cukup peduli. Sisanya, biarkan waktu yang bekerja.
Dan mungkin, di tengah dunia yang serba cepat ini, kita memang butuh lebih banyak orang seperti Havez—yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi orang lain untuk ikut tumbuh.





