Putra Lampung, Alumni Ponpes Al-Fatah Natar Jadi Wakapolres di Tapanuli Utara

TAPANULI UTARA | LAMPUNGKU.COM – Di balik seragam cokelat dengan lambang melati emas berujung lima yang kini dikenakan, tersimpan kisah panjang penuh perjuangan dari seorang santri sederhana asal Lampung. Kompol Wirhan Arif, S.H., S.I.K., M.H., yang hari ini, Rabu (15/4/2026) resmi dilantik mengemban amanah sebagai Wakapolres Tapanuli Utara, Polda Sumatera Utara.

Jabatan ini bukan sekadar posisi struktural, melainkan simbol perjalanan panjang seorang anak pesantren yang berhasil menembus dan memberi warna di institusi kepolisian.

Lahir di Jakarta Pusat pada 5 September 1983, Wirhan tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana. Namun, fase paling menentukan dalam hidupnya justru terjadi saat ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Natar, Lampung.

Di tempat inilah ia belajar tentang arti hidup dalam keterbatasan. Ia mengenang masa-masa ketika untuk sekadar menikmati makanan ringan atau menonton televisi harus menumpang ke rumah warga.

Bahkan, pengalaman mencari bekicot untuk lauk makan menjadi bagian dari kisah yang membentuk daya juangnya. Kehidupan keras di pesantren, termasuk pernah merasakan penyakit kulit seperti skabies, justru menempa mentalnya menjadi lebih kuat dan tahan uji.

Wirhan bersyukur, saat ini Ponpes Al-Fatah Natar sudah lebih terbuka dan jauh lebih baik secara fasilitas dibanding saat dulu dia nyantri di sini. “Dulu saya diantar oleh paman menggunakan mobilnya, sampai terperosok disitu karena jalannya masih jalan tanah. Santri ikut membantu mendorong mobil yang ambles di jalan tanah,” kenangnya.

Selepas dari pesantren, perjalanan hidupnya tidak langsung menemukan arah. Ia sempat mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan masa depan. Namun, perlahan ia menemukan jalannya melalui dunia pendidikan tinggi. Ia menyelesaikan studi S1 Hukum di Universitas Lampung pada tahun 2007, kemudian melanjutkan pendidikan S2 di kampus yang sama hingga lulus pada 2010.

Di tengah proses tersebut, ia sempat mencoba jalur lain seperti seleksi kejaksaan dan bahkan berhasil menembus 50 besar. Namun, panggilan hidupnya ternyata berada di jalan pengabdian sebagai anggota kepolisian.

Tahun 2009 menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Dengan tekad kuat dan keyakinan penuh, ia mengikuti seleksi Akademi Kepolisian (Akpol). Tanpa bantuan atau jalur khusus, ia menjalani seluruh tahapan seleksi secara mandiri, bahkan harus bolak-balik mengikuti tes di Semarang.

Dalam proses itu, ia sempat bernazar bahwa jika lulus, ia akan berbagi dengan anak-anak yatim. Usahanya berbuah hasil. Ia dinyatakan lulus murni dan resmi menjalani pendidikan di Akpol pada tahun 2010 selama satu setengah tahun. Dari sinilah kariernya sebagai perwira Polri dimulai.

Tak berhenti di situ, ia terus mengembangkan kapasitas dirinya melalui pendidikan lanjutan. Pada tahun 2018, ia menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), sebuah jenjang strategis bagi perwira menengah Polri.

Selain itu, ia juga mengikuti berbagai pelatihan profesional, seperti International Criminal Investigative Training Assistance Programme (ICITAP) pada tahun 2014 serta pendidikan spesialisasi penyidikan tindak pidana cyber crime pada tahun 2012. Berbagai pendidikan ini memperkuat kompetensinya, terutama dalam bidang reserse kriminal yang menjadi fokus utama kariernya.

Perjalanan penugasan Wirhan Arif menunjukkan rekam jejak yang panjang dan penuh tantangan. Kariernya dimulai sebagai perwira pertama di wilayah Nusa Tenggara Timur, daerah yang dikenal dengan kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas. Pada tahun 2011, ia bertugas di Polres Sumba Timur dan diarahkan sebagai Kanit SPKT.

Setahun kemudian, ia mengemban tugas sebagai PS Kanit Reskrim di Polsek Loura, Polres Sumba Barat Daya, serta sempat menjadi PS Panit di Ditreskrimsus Polda NTT. Kemampuannya di bidang reserse mulai terlihat ketika ia dipercaya menjabat sebagai Kasatreskrim Polres Sikka pada 2014, yang kemudian dilanjutkan sebagai Kapolsek Malaka Tengah di tahun yang sama.

Kariernya terus berkembang. Pada 2016, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Kasubbag Humas Polres Belu, kemudian menjabat sebagai Paur Subbagrenminops di Roops Polda NTT. Setelah menimba banyak pengalaman di wilayah timur Indonesia, ia melanjutkan pengabdian di Polda Sumatera Utara.

Tahun 2018 menjadi fase penting ketika ia menjabat sebagai Kasatreskrim Polres Binjai, lalu berlanjut sebagai Kasatreskrim Polres Tebing Tinggi pada 2020. Pengalaman operasionalnya semakin lengkap saat ia dipercaya sebagai Kabag Ops Polres Labuhan Batu pada 2021.

Kemampuannya yang konsisten membawanya ke posisi yang lebih strategis. Ia pernah menjabat sebagai Kasatreskrim Polresta Deli Serdang pada 2023, kemudian dipercaya sebagai Kanit di Ditreskrimum Polda Sumut, hingga menjadi Wakasatreskrim Polrestabes Medan pada 2025.

Puncaknya, pada 9 April 2026, ia mendapat surat tugas untuk menjabat sebagai Wakapolres Tapanuli Utara dengan pangkat Komisaris Polisi (Kompol) dan hari ini digelar serah terima jabatan dari Wakapolres sebelumnya.

Bagi Wirhan, menjadi polisi bukan berarti meninggalkan jati diri sebagai santri. Justru nilai-nilai yang ia dapatkan di pesantren menjadi fondasi utama dalam menjalankan tugas. Ia meyakini bahwa alumni pesantren memiliki peran penting dalam memperbaiki citra dan sistem di tubuh kepolisian. Menurutnya, kedisiplinan, akhlak, serta bekal spiritual yang kuat menjadi keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki semua orang.

Ia juga menyoroti masih adanya rasa kurang percaya diri di kalangan alumni pesantren untuk masuk ke institusi seperti Polri. Padahal, menurutnya, pimpinan kepolisian justru membuka ruang besar bagi lulusan pesantren, termasuk mereka yang memiliki kemampuan di bidang tahfidz Al-Qur’an.

Polisi, kata dia, tidak hanya bertugas menegakkan hukum, tetapi juga bisa menjadi agen kebaikan di tengah masyarakat.

Motivasi terbesar dalam hidupnya lahir dari keterbatasan yang pernah ia rasakan. Ia percaya, kesulitan hidup justru melahirkan keinginan kuat untuk berubah dan menjadi lebih baik. Berangkat dari mimpi sederhana ingin merasakan kehidupan seperti saudara-saudaranya yang kuliah di kota besar, kini ia berhasil mencapai posisi yang jauh melampaui bayangannya di masa lalu.

Sebagai penutup, ia berpesan kepada generasi muda, khususnya para santri, untuk tidak ragu bermimpi besar. Baginya, hidup adalah tentang pilihan dan keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Ia mengajak anak-anak muda untuk membuktikan kemampuan diri, meski sering dipandang sebelah mata. Ia juga mengingatkan pentingnya menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar penonton sejarah.

Perjalanan Wirhan Arif adalah bukti nyata bahwa dari ruang-ruang sederhana di pesantren, dapat lahir sosok pemimpin yang mampu berkiprah di tingkat nasional. Sebuah kisah tentang ketekunan, keberanian, dan keyakinan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berhasil, selama mau berjuang dan tidak menyerah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *