BACAN | LAMPUNGKU.COM – Langit senja perlahan merunduk di atas Dusun Moifi, Desa panamboang, Kec. Bacan selatan, Kab. Halmahera-selatan, provinsi Maluku Utara ketika lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun lembut dari teras sederhana Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Shuffah Hizbullah Bacan.
Di antara deretan santri bersarung dan berkopiah, hadir seorang tamu yang bukan sekadar pemimpin adat, tetapi juga bagian dari sejarah panjang negeri ini: Sultan Bacan, Muhammad Irsyad Al-Baqir Sjah.
Rabu sore (25/02/2026) itu menjadi momen yang berbeda bagi warga Dusun Moifi dan sekitarnya. Kehadiran Sultan di Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah Panamboang dan LPQ Al-Fatah Bacan bukan hanya untuk menghadiri buka puasa bersama. Ia datang membawa pesan yang sederhana, namun terasa dalam: adab adalah benteng terakhir manusia di tengah derasnya inovasi zaman.
Di hadapan para santri yang duduk bersila, Sultan tidak banyak berbicara tentang kejayaan masa lalu. Namun, setiap kalimatnya mengandung refleksi sejarah panjang Kesultanan Bacan yang telah bertahan lebih dari delapan abad.
“Yang kita pegang selama ini bukan semata inovasi, tetapi adab,” tuturnya pelan namun tegas.
Bagi Sultan, kemajuan teknologi hari ini memang meringankan beban fisik manusia. Segala sesuatu menjadi cepat dan mudah. Namun di balik kemudahan itu, ada ujian mental dan spiritual yang tak kalah berat. Ia mengingatkan bahwa inovasi tanpa adab justru kerap melahirkan kerusakan—baik pada lingkungan maupun pada hubungan antarsesama.
Di wajah para santri, tampak kesungguhan mendengar. Sebagian mungkin belum sepenuhnya memahami beratnya tantangan zaman, tetapi pesan itu menancap: ilmu harus berjalan seiring akhlak.
Sebelum memberi sambutan budaya, Sultan sempat berjalan menyusuri halaman pesantren, berbincang santai dengan para pengasuh dan santri. Di sela-sela kebun cabai, kangkung dan jagung yang ditanam mandiri oleh pondok, percakapan berlangsung hangat dan bersahaja.
Di sana, tak ada jarak antara raja dan rakyat. Yang tampak hanyalah seorang lelaki yang peduli pada pendidikan generasi muda.
Sultan juga berbagi kisah masa mudanya saat menempuh pendidikan di pesantren. Ia mengenang bagaimana godaan justru sering datang kepada mereka yang sedang menuntut ilmu.
“Tugas besar setan adalah menggoda orang-orang yang berada di jalan lurus,” ujarnya, mengingatkan bahwa semakin tinggi cita-cita, semakin besar pula ujian yang menghadang.
Pesan itu bukan sekadar nasihat. Ia seperti pengakuan jujur dari seorang pemimpin yang pernah menjadi santri—bahwa menjaga iman adalah perjuangan seumur hidup.
Bagi warga Panamboang, kunjungan ini lebih dari sekadar agenda seremonial. Ada harapan yang tumbuh di balik pertemuan itu. Sultan menyatakan komitmennya untuk ikut berkhidmat bagi kemajuan pesantren, baik secara pribadi maupun atas nama lembaga kesultanan.
Ia bahkan membuka peluang kolaborasi dengan jamaah dan rekan-rekannya dari luar negeri untuk mendukung pendidikan di pelosok Halmahera Selatan ini.
Komitmen itu terasa tulus ketika diakhiri dengan doa bersama dan makan malam sederhana. Nasi hangat, lauk seadanya, dan tawa ringan menyatukan ulama, santri, masyarakat, dan pihak kesultanan dalam satu meja kebersamaan.
Malam pun turun perlahan di Panamboang. Sultan ikut sholat Isya dan tarawih berjamaah diimami lulusan Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dari Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah Bin Mas’ud Online (STISA ABMO) Lampung, Ustadz. Yusuf Saepudin, SAg. Sultan pamit kembali ke keraton Kesultanan Bacan meninggalkan kesan mendalam di pesantren yang masih merintis ini.
Namun dari pesantren kecil ini, ada cahaya yang terus dijaga—cahaya adab. Di tengah dunia yang terus berlari dengan inovasi, pesan sederhana Sultan Bacan sore itu terasa relevan: tanpa adab, kemajuan hanyalah ilusi.





