BOGOR | LAMPUNGKU.COM – Suasana aula STAI Al-Fatah pagi itu tidak sepenuhnya riuh. Ratusan peserta memang memadati kursi-kursi yang tersusun rapat, namun ketika satu kalimat dilontarkan dari atas podium, ruangan justru seketika hening.
“Perubahan iklim ekstrem adalah peringatan agar manusia kembali kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum datang azab yang lebih besar.”
Beberapa peserta terlihat menunduk. Sebagian lain menatap lurus ke depan. Kalimat itu datang dari Yakhsyallah Mansur dalam seminar nasional yang digelar Ukhuwah Al-Fatah Rescue bersama STAI Al-Fatah di Cileungsi, Bogor, Sabtu (25/4/2026).
Yakhsyallah mengingatkan bahwa bencana tidak semata fenomena alam, tetapi juga memiliki dimensi spiritual. Ia menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah, sementara merusak alam dapat mengundang bencana.
Istilah ilmiah seperti El Nino menjadi topik utama hari itu. Namun, yang terasa di dalam ruangan bukan hanya kekhawatiran soal cuaca—melainkan sesuatu yang lebih dalam.
Di barisan tengah, seorang peserta terlihat sibuk memotret slide presentasi. Di sisi lain, beberapa relawan muda dari berbagai daerah duduk tegap, sesekali mencatat poin penting. Mereka datang dengan satu tujuan, memahami ancaman yang disebut-sebut sebagai “El Nino Godzilla 2026”.
Ketua Panitia Penyelenggara H. Syakuri, S.H., dalam sambutannya menegaskan kegiatan ini merupakan upaya edukasi dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi El Nino ekstrem yang diperkirakan melanda Indonesia pada 2026. Dampak El Nino tidak hanya berupa kekeringan panjang, tetapi juga kebakaran hutan dan lahan, krisis air bersih, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan.
Oleh karenanya ia menegaskan pentingnya sinergi semua pihak dalam menghadapi ancaman tersebut. Menurutnya, kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.
“Masyarakat tidak boleh hanya pasrah. Ikhtiar melalui strategi antisipasi harus dilakukan sebelum bertawakal,” ujarnya, mengutip hadis tentang pentingnya usaha sebelum berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika giliran Dr. Supari dari BMKG menjelaskan bahwa El Nino terjadi akibat penyimpangan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia, suasana kembali berubah.
Penjelasannya lugas dan berbasis data. Ia mengurai bagaimana pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dapat menggeser pola hujan di Indonesia.
“El Nino 2026 berpotensi menimbulkan kekeringan luas. Karena itu, informasi iklim harus dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan,” jelasnya, seraya menekankan pentingnya peningkatan literasi iklim masyarakat. Beberapa kepala mengangguk pelan. Ancaman itu terasa nyata.
Di sudut ruangan, seorang relawan terlihat mengangguk sambil menutup botol minumnya rapat-rapat. Mungkin sederhana, tapi pesan penghematan air terasa lebih konkret dibanding sekadar wacana.
Istilah “El Nino Godzilla” yang diangkat dalam forum ini bukan tanpa alasan. R. Hadianto Wardjaman menjelaskan potensi dampaknya yang tidak biasa berdampak luas lintas sektor. Musim kemarau lebih panjang, cadangan air menyusut, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat, dan sektor pertanian yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional bisa terpukul.
Hadianto menyebut istilah “Godzilla” sebagai gambaran ancaman yang tidak biasa dan berdampak luas lintas sektor. Ia menekankan perlunya koordinasi lintas sektor, sistem peringatan dini, dan respons cepat untuk meminimalkan risiko.
Namun di tengah paparan ancaman itu, arah pembicaraan berkali-kali kembali pada satu hal yang sama, peran kita sebagai manusia untuk menjaga alam ini tetap lestari, bukan justru mengundang bencana bertubi-tubi.
Ketua Umum UAR, Endang Sudrajat, ST., M.Si., MT., menyoroti pentingnya penguatan peran relawan dan kesiapsiagaan berbasis masyarakat. “Relawan adalah garda terdepan. Mereka harus didukung sistem yang jelas, kapasitas memadai, dan logistik yang siap,” tegasnya.
Menurutnya, kesiapsiagaan harus disosialisasikan hingga ke komunitas relawan sebagai garuda terdepan dengan memahami siklus manajemen bencana: pra, saat, dan pasca bencana.
Endang menegaskan langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini, seperti penghematan air, pemantauan informasi iklim, serta kesiapan menghadapi potensi kebakaran. “Setiap relawan harus memahami langkah yang harus dilakukan, memiliki akses layanan darurat, dan meningkatkan kepedulian lingkungan. Risiko El Nino bisa dikurangi jika kita siap dan peduli sejak awal,” ujarnya.
Di luar gedung, langit Cileungsi tampak cerah menjelang siang. Sulit membayangkan ancaman kekeringan panjang ketika udara masih terasa lembap. Namun justru di situlah letak kegelisahan yang muncul dalam seminar ini—ancaman besar sering datang ketika semuanya masih terlihat baik-baik saja.
Menjelang akhir acara, suasana kembali tenang. Tidak ada tepuk tangan meriah yang berlebihan. Hanya percakapan-percakapan kecil antar peserta, seolah masing-masing sedang mencerna apa yang baru saja didengar.
Seminar yang berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi ratusan peserta ini memang berbicara tentang El Nino. Tentang data, prediksi, dan risiko yang bisa terjadi. Berbagai pertanyaan muncul, terutama terkait langkah konkret menghadapi potensi krisis akibat El Nino.
Tapi lebih dari itu, forum ini seperti mengajak peserta melihat ke arah yang jarang dibahas—bagaimana manusia bersikap terhadap alam, dan apa yang perlu diperbaiki sebelum semuanya benar-benar terjadi.
Di tengah ancaman yang disebut-sebut bisa mengguncang banyak sektor kehidupan, satu hal terasa jelas dari ruangan itu. Masyarakat diminta memahami ancaman El Nino Godzilla ini bukan semata fenomena alam, namun juga memiliki dimensi spritual.
Persoalannya mungkin bukan hanya pada datangnya bencana. Perubahan iklim ekstrem adalah peringatan agar manusia kembali kepada syariat sebelum azab yang lebih luas datang. Masyarakat harus memahami dan meresponsnya dengan menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah ketimbang merusak alam yang akan mengundang bencana.





