NATAR | LAMPUNGKU.COM – Seorang remaja perempuan berusia 16 tahun mengangkat tangan di tengah Seminar dan Talkshow terkait Masjid Al-Aqsha yang digelar Aqsa Working Group (AWG) Wilayah Lampung bersama DKM Masjid An-Nubuwwah, Sabtu (5/9/2026). Namanya Anbar Jasmine Al Fitriah, Santri Ponpes Al-Fatah Natar.
Salah seorang pembicara, Drs. Asep Fathurahman, kemudian mengajukan pertanyaan tentang apa yang akan dilakukannya ketika diberikan kesempatan untuk berada di Gaza Palestina.
Jasmine panggilan akrabnya, menjawab ingin berada di Gaza kelak ketika sudah menjadi dokter, yang bisa membantu saudaranya yang memerlukan pelayanan kesehatan.
Cita-cita itu tidak berhenti pada keinginan memiliki profesi. Ia mengatakan ingin menjadi dokter agar kelak dapat memberikan manfaat ketika Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Gaza yang digagas Maemuna Center, Sayap keperempuanan AWG telah dibangun.
Jawaban Jasmine tersebut, menjadi salah satu dari sebagian poin penting seminar bertema “Menemukan Peran dalam Proses Terbebasnya Masjidil Aqsa dari Cengkeraman Zionis.”
Pertanyaan tentang peran aktif generasi muda menjadi salah satu benang merah kegiatan tersebut. Palestina dan Al-Aqsha tidak hanya dibahas sebagai persoalan yang terjadi jauh dari Lampung, tetapi juga sebagai persoalan yang menuntut pengetahuan, kepedulian dan kontribusi.
Amir Syubban (Pemuda) Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung, Fadli Iqamul Haq, S.E., menyampaikan bahwa jarak geografis Lampung dengan Palestina tidak seharusnya menjadi alasan bagi generasi muda untuk kehilangan kepedulian terhadap Al-Aqsha.
Menurut Fadli, Al-Aqsha memiliki posisi penting dalam sejarah dan identitas umat Islam. Karena itu, generasi muda Syubban dan Fatayat perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kondisi Palestina dan mengikuti perkembangan informasinya.
Ia juga menyoroti kondisi pendidikan dan kehidupan masyarakat Palestina yang memprihatinkan. Menurutnya, pembahasan Palestina perlu dilihat dari berbagai sisi, termasuk pengetahuan, perjuangan dan geopolitik internasional.
Pembina AWG Wilayah Lampung, Ustadz Amin Nuruni S.Sos, juga menyoroti potensi generasi muda di Lampung.
Ia mendorong Syubang dan Fatayat lebih aktif mengikuti perkembangan Palestina dan Al-Aqsha. Menurutnya, informasi yang terus diperbarui diperlukan untuk menjaga kepedulian dan semangat perjuangan generasi muda.
Ia juga mendorong adanya ruang bersama yang secara rutin membahas perkembangan Palestina, termasuk persoalan pendidikan dan kondisi masyarakatnya.
Pembahasan kemudian diarahkan pada kondisi rakyat Palestina, khususnya Gaza.
Keynote speaker, K.H. Dr. (Cand) Yakhsyallah Mansur, M.A., membawa peserta pada persoalan yang lebih besar bahwa penderitaan rakyat Palestina, terutama di Gaza, tidak boleh membuat umat kehilangan harapan.
Di tengah beratnya keadaan, ia menekankan pentingnya optimisme terhadap pertolongan Allah dan kesabaran dalam menjalankan perjuangan.
Perjuangan, menurutnya, membutuhkan kerja yang berat. Karena itu, umat tidak seharusnya bergerak sendiri-sendiri, melainkan membangun kebersamaan dan berjamaah secara utuh.
Palestina juga tidak semestinya hanya dilihat sebagai cerita tentang kehancuran. Penderitaan yang terjadi harus menjadi sumber kesadaran, semangat dan optimisme untuk terus memperjuangkan Al-Aqsha.
Pesan itu menemukan relevansinya pada sosok Jasmine.
Ia mungkin belum mampu melakukan banyak hal hari ini. Tetapi ia bisa belajar menjadi dokter. Dan ketika waktunya tiba, ilmu yang dimilikinya dapat menjadi bentuk pengabdian.
Gagasan mengenai kemampuan setiap individu kemudian diperdalam Asep Fathurahman. Menurutnya seseorang tidak harus memiliki kekuatan besar untuk mengambil bagian.
Ia menggunakan kisah Nabi Musa dan Firaun untuk menjelaskan bahwa kemenangan tidak selalu dapat diukur dari kekuatan materi. Menurutnya, seseorang tidak harus memiliki kekuatan besar atau senjata untuk mengambil bagian dalam perjuangan.
Ia menekankan ketaatan kepada Allah, menjauhi maksiat dan pengkhianatan, membangun kekuatan melalui jamaah serta kesiapan menjalankan amanah.
Moderator Ustadz Yusron Darajat, S.Pd., M.Sc., menegaskan arah pembahasan seminar. Pertanyaan terpenting bukan lagi apakah Palestina perlu diperjuangkan, melainkan apa peran yang bisa diambil setiap orang.
Seseorang tidak harus menjadi tokoh besar atau berada di garis depan. Peran dapat lahir dari kemampuan masing-masing; media, pendidikan, kesehatan, organisasi pergerakan, diplomasi, bantuan kemanusiaan maupun bidang lainnya.
Generasi muda didorong untuk aktif bertanya dan mengambil bagian. Menurutnya, seseorang tidak harus menjadi tokoh besar atau berada di garis depan untuk memberikan kontribusi. Peran dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing.
Ketua Presidium Al-Aqsa Working Group (AWG), Muhammad Ansarullah, membawa peserta melihat sejarah panjang perjuangan Palestina.
Ia membahas Black September 1972 sebagai salah satu peristiwa dalam sejarah perlawanan Palestina. Menurutnya, perjuangan Palestina telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang dan setiap generasi menghadapi kondisi serta tantangannya sendiri.
Ansarullah juga menjelaskan perkembangan AWG dan sejumlah upaya yang telah dilakukan. Salah satunya adalah mendorong pembelaan Palestina dan Al-Aqsha menjadi isu kemanusiaan yang dapat melibatkan berbagai kelompok.
Ia menyebut kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk tokoh lintas agama dan kelompok yang memiliki kepedulian terhadap Palestina, sebagai bagian dari upaya tersebut.
Dalam konteks AWG, ia menekankan pentingnya memperluas pembelaan Palestina sebagai persoalan kemanusiaan yang dapat melibatkan berbagai kelompok.
Namun, pembelaan itu tidak boleh berhenti pada wacana.
Ia menghubungkan iman, ilmu dan amal: meyakini pentingnya Al-Aqsha, mempelajari sejarah dan persoalannya, kemudian mengubah keyakinan dan pengetahuan itu menjadi tindakan nyata—mulai dari doa, bantuan kemanusiaan, aksi, tulisan hingga edukasi.
Bentuknya dapat berupa doa, bantuan kemanusiaan, aksi, tulisan, edukasi maupun bentuk pembelaan lain sesuai kemampuan.
Rifa Berliana Arifin, Lc., M.H., kemudian menyoroti persoalan implementasi.
Menurutnya, banyak organisasi mampu melahirkan diskusi dan gagasan, tetapi menghadapi persoalan ketika memasuki tahap implementasi.
Generasi muda, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan terobosan melalui cara berpikir, kreativitas, kerja sama dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Peran tersebut dapat dimulai dari lingkungan masing-masing sebelum berkembang pada kontribusi yang lebih luas.
Ia juga membahas perbedaan pola pikir antara generasi tua dan generasi muda serta pentingnya mencari cara kerja yang sesuai dengan tantangan zaman.
Menurut Rifa, tidak ada satu format baku yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan umat dan pembebasan Al-Aqsha. Kerja sama dalam isu Palestina juga tidak harus menunggu semua pihak memiliki kesamaan dalam seluruh persoalan.
Pertanyaan tentang peran juga muncul dalam sesi tanya jawab. Peserta membahas simbol perlawanan seperti layang-layang dari Gaza, kesempatan generasi muda untuk mengambil peran, kemungkinan kerja sama antarorganisasi, hingga bentuk kontribusi individu.
Pembicaraan kembali pada satu kesimpulan bahwa seseorang tidak harus menunggu menjadi tokoh besar untuk berbuat.
Peran dapat dimulai dari kemampuan yang sudah dimiliki. Bidang kesehatan, pendidikan, media, tulisan, organisasi dan bantuan kemanusiaan menjadi sejumlah ruang yang dapat diisi.
Bagi Jasmine, ruang itu untuk sementara berada di bangku belajar.
Ia telah menyebut profesi yang ingin dikejarnya, dokter. Tujuannya pun telah ia kaitkan dengan Gaza.
Sementara para pembicara menekankan bahwa pembebasan Masjid Al-Aqsha merupakan kepastian dalam keyakinan mereka dan bagian dari janji Allah. Kepastian tersebut, dalam pembahasan seminar, bukan alasan untuk menunggu tanpa persiapan.
Generasi muda justru didorong untuk memperkuat pengetahuan, kemampuan, kepedulian, kebersamaan dan kesiapan mengambil amanah.
Pada akhirnya, seminar dan talkshow ini bukan tentang menemukan satu jawaban untuk seluruh persoalan Palestina.
Ia justru membuka banyak pintu.
Ada yang mungkin menjadi dokter seperti cita-cita Jasmine. Ada yang menulis. Ada yang mendidik. Ada yang bekerja di bidang media. Ada yang membantu kemanusiaan. Ada yang membangun organisasi dan jejaring. Ada pula yang mempersiapkan diri dengan ilmu dan kemampuan yang kelak dibutuhkan.
Pembebasan Masjid Al-Aqsha dalam keyakinan para pembicara dipandang sebagai sebuah kepastian yang dijanjikan Allah. Tetapi keyakinan terhadap janji tersebut bukan alasan untuk menunggu tanpa melakukan apa-apa.
Justru karena meyakininya, manusia dituntut mempersiapkan diri.
Maka, telunjuk tangan Jasmine yang terangkat di antara peserta seminar pagi itu menjadi lebih dari sekadar tanda ingin menjawab pertanyaan.
Ia seperti sebuah penunjuk arah.
Bahwa perjuangan besar dapat dimulai dari keputusan kecil seorang anak muda, menentukan apa yang ingin ia kuasai, untuk siapa kemampuan itu kelak digunakan, dan sejak kapan ia harus mempersiapkannya.
Pertanyaan “mengapa kita harus peduli kepada Palestina?” perlahan bergeser menjadi pertanyaan yang jauh lebih personal. “Apa yang bisa saya lakukan untuk mengambil bagian dalam perjuangan Al-Aqsha?”
Dan mungkin, bagi generasi muda, jawabannya tidak harus ditemukan hari ini.
Yang penting adalah mulai mencarinya, lalu mempersiapkan diri agar ketika kesempatan datang, mereka tidak lagi bertanya apa yang bisa dilakukan.
Mereka sudah siap melakukannya.





