Aktivis Perempuan Asal Lampung Pimpin Maemuna Center Indonesia

BEKASI | LAMPUNGKU.COM — Lembaga kepalestinaan Aqsa Working Group (AWG) secara resmi menetapkan aktivis perempuan asal Lampung, Siti Muthmainah sebagai Ketua Maemuna Center Indonesia dalam acara serah terima amanat kepemimpinan yang digelar di Ruang Pelatihan Lantai 2 Gedung Rasil, Cibubur, Bekasi, Sabtu (18/7/2026).

Siti Muthmainah menggantikan Onni Firyanti Hamidi yang telah menyelesaikan masa baktinya sebagai Ketua Maemuna Center Indonesia, lembaga sayap perempuan AWG yang bergerak dalam perjuangan kemanusiaan, khususnya pembelaan terhadap hak-hak perempuan dan anak di Palestina.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Ketua Presidium AWG M. Anshorullah menyampaikan pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang berjalan secara alami dan menjadi momentum untuk memperkuat perjuangan bersama.

Menurutnya, estafet kepemimpinan bukan sekadar pergantian figur, melainkan keberlanjutan amanah perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulu.

“Kami ucapkan terima kasih atas pengabdian Onni Firyanti Hamidi yang telah banyak berkontribusi untuk perjuangan Al-Aqsa melalui Maemuna Center Indonesia,” ujar Anshorullah.

Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi, kerja keras, dan kontribusi Ketua Maemuna Center Indonesia sebelumnya dalam mengembangkan berbagai program kemanusiaan, terutama dalam mendukung perjuangan perempuan dan anak-anak Palestina.

Anshorullah berharap di bawah kepemimpinan Siti Mutmainah, Maemuna Center Indonesia semakin berkembang sebagai wadah perjuangan perempuan Indonesia untuk terus menghadirkan kepedulian nyata terhadap Palestina.

“Kami berharap kepemimpinan baru ini mampu melanjutkan perjuangan yang telah dirintis, memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas jaringan, serta menghadirkan program-program nyata bagi pembelaan Al-Aqsa dan masyarakat Palestina,” ungkapnya.

Sementara Pembina Utama AWG, Imaam Yakhsyallah Mansur, menyampaikan hadirnya kepemimpinan baru Maemuna Center Indonesia merupakan bagian dari kesinambungan perjuangan umat Islam dalam membela Masjid Al-Aqsa dan Palestina.

Dalam tausiyah yang disampaikan pada acara serah terima amanat tersebut, Imaam Yakhsyallah menegaskan perjuangan pembebasan Al-Aqsa merupakan agenda strategis yang harus terus dijaga oleh umat Islam di seluruh dunia.

“Perjuangan ini menghadapi musuh bersama umat Islam, yaitu Yahudi, yang sangat jelas disebutkan dalam Al-Qur’an, terutama dalam Surat Al-Maidah,” ujar Imaam Yakhsyallah dalam pengarahan yang dibacakan Sekretaris Maktab Am AWG, Agus Sudarmaji.

Ia berharap Ketua Maemuna Center Indonesia yang baru, Siti Mutmainah, mampu melanjutkan amanah perjuangan dengan memperkuat peran perempuan dalam membangun solidaritas untuk Palestina.

Menurutnya, kekuatan perjuangan akan semakin besar apabila seluruh elemen umat menjaga persatuan hati atau ulfah.

“Pertolongan Allah datang melalui orang-orang beriman yang hati mereka disatukan oleh iman, cinta, dan kasih sayang karena Allah. Ketika ulfah melemah, kekuatan umat pun melemah. Sebaliknya, ketika ulfah menguat, maka terbukalah pintu-pintu pertolongan Allah dari arah yang tidak disangka-sangka,” tegasnya.

Imaam Yakhsyallah juga menilai estafet kepemimpinan Maemuna Center Indonesia menjadi simbol keberlanjutan perjuangan kemanusiaan, khususnya dalam membela hak-hak perempuan dan anak Palestina serta menjaga komitmen umat Islam Indonesia terhadap pembebasan Masjid Al-Aqsa.

Perjuangan Al-Aqsa Amanah Para Syuhada

Sementara itu, dalam sambutan perdananya sebagai Ketua Maemuna Center Indonesia, Siti Mutmainah, yang akrab disapa Iin, menyatakan kesiapan dirinya untuk melanjutkan berbagai program perjuangan pembebasan Al-Aqsa dan misi kemanusiaan Palestina melalui lembaga yang kini dipimpinnya.

Siti Mutmainah merupakan istri dari almarhum Nur Ikhwan Abadi, Ketua Presidium AWG sebelumnya yang telah wafat saat sedang menjalankan tugas kemanusiaan dan pembelaan terhadap Masjid Al-Aqsa pada 2024 lalu

Dengan penuh haru, Iin menegaskan bahwa perjuangan Al-Aqsa bukan hanya catatan sejarah, melainkan amanah yang harus terus dijaga dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

“Nafas perjuangan, darah dan air mata para syuhada pembela Al-Aqsa, bukan cerita masa lalu. Tapi menjadi obor semangat untuk hari ini dan seterusnya,” ujar Iin.

Ia menegaskan perempuan memiliki peran strategis dalam perjuangan Al-Aqsa. Meski sering menjadi kelompok paling rentan bersama anak-anak di Palestina, perempuan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kemuliaan Masjid Al-Aqsa dan bumi para nabi.

“Perempuan adalah pilar penting dalam perjuangan Al-Aqsa. Dari tangan-tangan para ibu lahir generasi yang menjaga nilai perjuangan dan keteguhan dalam membela tanah suci Palestina,” katanya.

Iin juga berharap seluruh pengurus Maemuna Center Indonesia dan AWG dapat semakin memperkuat sinergi, dedikasi, serta kerja bersama dalam menjalankan amanah perjuangan.

Ia meyakini bahwa setiap pengorbanan yang diberikan untuk perjuangan Al-Aqsa memiliki nilai ibadah di sisi Allah SWT.

“Setiap keringat yang keluar untuk perjuangan Al-Aqsa, insya-Allah dinilai sebagai jihad. Inilah solidaritas dan bukti nyata peran ibu-ibu Indonesia, bukti bahwa kita tidak tinggal diam. Allahu Akbar! Al-Aqsa Haqquna!” lanjutnya.

Seruan tersebut kemudian menggema dan disambut oleh seluruh pengurus AWG, Maemuna Center Indonesia, serta para tamu undangan yang hadir dalam acara serah terima amanat tersebut.

Maemuna Center Indonesia dan Misi Rumah Sakit Ibu dan Anak Indonesia di Gaza

Maemuna Center Indonesia merupakan lembaga swadaya masyarakat (NGO) dan gerakan kemanusiaan khusus perempuan di bawah naungan Aqsa Working Group (AWG).

Lembaga ini berfokus pada pembelaan serta pemenuhan hak-hak perempuan dan anak, terutama masyarakat Palestina yang terdampak konflik dan krisis kemanusiaan.

Salah satu program strategis yang telah diinisiasi oleh Maemuna Center Indonesia bersama AWG di bawah kepemimpinan sebelumnya adalah pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Gaza.

Proyek kemanusiaan tersebut dibangun di Gaza Utara di atas lahan wakaf seluas 6.000 meter persegi dengan estimasi kebutuhan biaya mencapai Rp402 miliar.

Rumah sakit ini dirancang memiliki kapasitas lebih dari 100 tempat tidur dan ditargetkan sekitar 75 persen tenaga medisnya berasal dari Indonesia.

Pembangunan fasilitas kesehatan tersebut menjadi sangat mendesak mengingat perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling banyak terdampak akibat krisis kemanusiaan di Gaza.

Melalui kepemimpinan baru Siti Mutmainah, Maemuna Center Indonesia berkomitmen melanjutkan perjuangan kemanusiaan tersebut serta memperkuat peran perempuan Indonesia dalam menghadirkan solidaritas nyata bagi Palestina.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *