NATAR | LAMPUNGKU.COM – Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika Antoni kembali berjibaku dengan tumpukan sampah di lingkungan RT 045, Dusun 10, Desa Natar, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Sabtu (17/10/2026). Bau menyengat menusuk hidung, tanah becek mengotori pijakan, sementara lalat beterbangan di antara sampah yang berserakan. Namun, pemandangan itu tak membuat lelaki berusia 40 tahun tersebut berpaling.
Di tengah kesibukannya sebagai buruh, Antoni tetap menyempatkan diri mengawasi lingkungan yang dipimpinnya. Ia memantau siapa saja yang masih membuang sampah sembarangan, mengingatkan warga agar tidak mengotori lingkungan, hingga turun langsung membersihkan area yang dipenuhi sampah.
Baginya, membiarkan sampah menumpuk sama saja membiarkan warga hidup dalam ketidaknyamanan. Dan jauh sebelum Antoni terpilih sebagai RT, permasalahan sampai di lingkungannya sudah sejak lama ada dan sulit terselesaikan. Namun di masanya, Antoni berjuang bagaimana sampah ini bisa teratasi.
Menjadi ketua RT bukan sekadar soal mengurus administrasi atau menghadiri pertemuan warga bagi Antoni. Ada tanggung jawab yang lebih besar, memastikan lingkungan tempat warganya tinggal tetap bersih, sehat, dan nyaman. Untuk mewujudkan itu, ia rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan merogoh kocek sendiri.
Antoni bukan orang yang hanya pandai mengimbau. Ketika tumpukan sampah tak kunjung teratasi, ia berinisiatif membeli tanah dan menyewa alat berat untuk menguruknya. Ia juga memasang banner imbauan, menggerakkan gotong royong, serta mempekerjakan seorang warga untuk mengangkut sampah setiap hari.
Perjuangannya belum selesai. Sebagian orang masih membuang sampah sembarangan, termasuk warga dari luar lingkungannya. Namun, bagi Antoni, kenyataan itu bukan alasan untuk berhenti. Selama masih ada sampah yang mengotori lingkungannya, ia akan terus berusaha mengingatkan, mengawasi, dan mengajak masyarakat untuk berubah.
Dari lingkungan RT 045, Antoni menunjukkan bahwa perubahan tak selalu dimulai dari kebijakan besar. Terkadang, perubahan berawal dari seorang ketua RT yang memilih turun tangan ketika orang lain masih memilih untuk tidak peduli.
Mengorbankan Uang Pribadi demi Lingkungan
Kepedulian Antoni terhadap kebersihan berangkat dari keinginannya melihat lingkungan tempat tinggalnya menjadi bersih, asri, dan nyaman. Ia tak ingin warga terus-menerus berhadapan dengan tumpukan sampah, bau tak sedap, kondisi becek, dan banyaknya lalat yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berbekal tekad tersebut, ia mulai melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan sampah di lingkungannya. Setiap pagi dan sore, Antoni memantau orang-orang yang masih membuang sampah sembarangan. Ia juga memasang banner imbauan agar masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Tak berhenti pada imbauan, Antoni turut menggerakkan warga untuk bergotong royong membersihkan dan menguruk tumpukan sampah. Bahkan, ia mempekerjakan seorang warga untuk mengangkut sampah setiap hari agar persoalan tersebut tidak terus berlarut-larut.
Perjuangan itu tidak hanya mengandalkan tenaga dan ajakan kepada warga. Ketika tumpukan sampah membutuhkan penanganan lebih serius, Antoni berinisiatif membeli tanah dan menyewa alat berat untuk menguruk sampah tersebut.
Langkah itu menjadi bukti bahwa kepeduliannya tidak berhenti pada kata-kata. Ia rela mengeluarkan uang pribadi demi mengurangi persoalan yang selama ini mengganggu kenyamanan warga.
Bersama warga setempat, ia juga mengupayakan kegiatan gotong royong secara rutin, termasuk melibatkan warga dari berbagai RT di Desa Natar. Semangat kebersamaan tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam perjuangannya menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Menghadapi Rendahnya Kesadaran Masyarakat
Meski telah melakukan berbagai upaya, perjalanan Antoni tidak selalu berjalan mulus. Salah satu kendala terbesar adalah masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap kebersihan. Menurutnya, banyak sampah yang dibuang di kawasan tersebut berasal dari warga di luar lingkungan RT 045, termasuk warga desa tetangga.
Kondisi itu membuat upaya menjaga kebersihan membutuhkan pengawasan dan kesabaran ekstra. Sebab, lingkungan yang telah dibersihkan bisa kembali dipenuhi sampah apabila masyarakat masih mengabaikan tanggung jawab bersama.
Namun, Antoni tidak memilih menyerah. Ia tetap berusaha memantau lingkungan, terutama pada pagi dan sore hari, untuk mencegah orang-orang kembali membuang sampah sembarangan.
Baginya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut atau menguruk tumpukannya. Perubahan perilaku masyarakat menjadi hal penting agar masalah serupa tidak terus berulang.
Karena itu, ia terus mengingatkan warga bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas ketua RT atau orang-orang yang bersedia turun tangan.
Apresiasi Sederhana di Tengah Perjuangan
Di balik perjuangan yang menguras waktu dan tenaga itu, ada cerita sederhana yang membekas dalam ingatan Antoni.
Suatu ketika, saat dirinya sedang membersihkan sampah, seorang ibu yang mengendarai sepeda motor memberinya uang. Menurut Antoni, uang tersebut diberikan dengan ucapan bahwa ia bisa menggunakannya untuk membeli es.
Peristiwa sederhana itu menjadi salah satu cerita di tengah rutinitasnya berjibaku dengan sampah. Di saat sebagian orang masih abai terhadap kebersihan, perhatian kecil dari warga menjadi bagian dari pengalaman yang menyertai perjuangannya.
Bagi Antoni, yang terpenting bukanlah pujian atau imbalan. Ia ingin lingkungan tempat tinggalnya terbebas dari sampah yang menimbulkan bau, mengundang lalat, dan mengganggu kenyamanan masyarakat.
Perlahan, upaya yang dilakukannya mulai menunjukkan hasil. Antoni bersyukur karena volume sampah di lingkungannya kini mulai berkurang, meskipun masih ada beberapa orang yang belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.
Dukungan warga, kepala dusun, kepala desa, Camat Natar, serta rekan-rekan ketua RT se-Desa Natar turut menjadi penyemangat baginya untuk terus bergerak.
Gotong royong yang melibatkan warga menjadi salah satu bentuk dukungan nyata. Bagi Antoni, kebersamaan tersebut penting agar perjuangan menjaga kebersihan tidak hanya bertumpu pada dirinya seorang.
Bukan Sekadar Ketua RT, tetapi Penggerak Perubahan
Bagi warga yang mengenalnya, Antoni merupakan sosok yang gesit, peduli, tanggap, tegas, mudah bergaul, dan pekerja keras. Ia juga dikenal mendukung berbagai kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya.
Karakter tersebut tercermin dari caranya menjalankan tugas sebagai ketua RT. Ia tidak hanya menunggu laporan atau mengandalkan orang lain, tetapi berusaha hadir langsung ketika persoalan muncul di tengah masyarakat.
Selain aktif sebagai RT, Antoni juga aktif di bidang sosial kemasyarakatan bersama Komunitas Pemuda se-Kecamatan Natar yang tergabung dalam Kopi Natarku (Komunitas Peduli Natarku). Di komunitas ini juga Antoni banyak sharing, ngobrol dengan teman-teman aktivis Peduli Lingkungan.
Di tengah kesibukannya sebagai buruh, Antoni tetap menyisihkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memastikan lingkungan tempat tinggalnya menjadi lebih baik. Baginya, jabatan ketua RT bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah untuk ikut menyelesaikan persoalan yang dihadapi warga.
Harapannya sederhana, tetapi membutuhkan komitmen bersama: tidak ada lagi warga yang membuang sampah sembarangan di lingkungan RT 045, Desa Natar.
Ia ingin masyarakat memiliki kesadaran bahwa membuang sampah sembarangan bukan hanya mengotori lingkungan, tetapi juga mengurangi kenyamanan orang lain yang tinggal di sekitarnya.
Perjuangan Antoni menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari program besar atau fasilitas yang lengkap. Terkadang, perubahan berawal dari seseorang yang tidak tahan melihat lingkungannya kotor, lalu memilih bergerak meski harus mengorbankan kepentingan pribadinya.
Antoni telah membuktikan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari memantau lingkungan, mengajak warga bergotong royong, hingga mengeluarkan uang pribadi untuk mengatasi persoalan sampah.
Selama masih ada sampah yang dibuang sembarangan, ia mengaku akan terus berusaha mengawasi dan mengajak masyarakat untuk berubah.
Sebab, bagi Antoni, lingkungan yang bersih bukan hanya tentang hilangnya tumpukan sampah, melainkan juga tentang tumbuhnya kesadaran dan kepedulian setiap orang terhadap tempat mereka hidup bersama.





