NATAR | LAMPUNGKU.COM — Ketika kemarau membuat sumber air mengering, sebagian orang mungkin memilih menunggu hujan. Namun, bagi Susilo Herdiansyah, SE, kondisi itu justru menjadi tantangan yang harus dihadapi agar tanaman tetap tumbuh dan harapan terhadap ketahanan pangan tidak ikut mengering.
Wakil Ketua Komunitas Kopi Natarku itu memilih turun langsung menggarap sektor pertanian dengan menyewa lahan seluas tiga hektare di Desa Negararatu Natar untuk ditanami labu.
Langkah tersebut menjadi bagian dari gerakan Kopi Natarku dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan desa di Kabupaten Lampung Selatan.
Bukan perkara mudah. Di tengah musim kemarau, ketersediaan air menjadi persoalan utama. Sumber air mengering, sementara tanaman membutuhkan pasokan air agar dapat tumbuh dengan baik.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Susilo mengandalkan pompa air atau Alkon untuk menyedot dan mengalirkan air dari ledengn ke lahan pertanian. Upaya itu menjadi bagian dari perjuangan menjaga tanaman tetap tumbuh di tengah keterbatasan sumber daya air.
Di balik kegiatan menanam labu, ada semangat yang ingin dibangun, ketahanan pangan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Lahan harus diolah, tanaman harus dirawat, dan setiap tantangan harus dicarikan jalan keluar.
Bagi Susilo, gerakan ini juga menjadi bukti bahwa komunitas masyarakat dapat mengambil peran dalam pembangunan daerah. Kopi Natarku tidak hanya menjadi ruang berkumpul dan bertukar gagasan, tetapi juga berupaya menghadirkan kegiatan produktif yang memiliki manfaat nyata.
“Ketahanan pangan tidak bisa hanya menjadi slogan atau sekadar program di atas kertas. Harus ada yang berani memulai, turun langsung ke lapangan, mengolah lahan, menanam, dan menghadapi tantangannya. Kami ingin menunjukkan bahwa komunitas juga bisa mengambil bagian dalam menjaga ketersediaan pangan,” ujarnya.
Gerakan pertanian yang dilakukan Kopi Natarku tersebut juga diarahkan untuk mendukung program Desa HELAU yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
Desa HELAU merupakan program pembangunan desa dengan akronim Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul. Program ini mendorong pembangunan desa secara terpadu melalui penataan lingkungan, pelestarian alam, peningkatan keamanan dan kenyamanan, serta pengembangan potensi dan produktivitas masyarakat.
Dalam semangat Desa HELAU, pembangunan desa tidak hanya berkaitan dengan lingkungan yang bersih, hijau, dan tertata, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengoptimalkan potensi wilayahnya untuk menciptakan kehidupan yang lebih produktif dan mandiri.
Penanaman labu di lahan seluas tiga hektare menjadi salah satu bentuk inisiatif Kopi Natarku yang sejalan dengan semangat tersebut, terutama dalam pemanfaatan lahan produktif dan penguatan ketahanan pangan.
Bagi Kopi Natarku, mendukung program pemerintah daerah tidak harus selalu menunggu kegiatan berskala besar. Inisiatif mandiri yang melibatkan masyarakat dan memanfaatkan potensi lokal juga dapat menjadi bagian dari pembangunan.
“Bagi kami, desa yang unggul bukan hanya desa yang bersih dan tertata, tetapi juga desa yang masyarakatnya produktif, mampu mengelola potensi alam, dan memiliki kepedulian terhadap ketahanan pangan. Kami ingin gerakan ini menjadi contoh bahwa komunitas bisa ikut mengambil peran dalam pembangunan daerah melalui langkah konkret,” kata Susilo.
Ia menilai, keberhasilan pembangunan desa membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah memiliki peran dalam menyusun kebijakan dan program, sedangkan masyarakat serta komunitas dapat berkontribusi melalui kegiatan nyata sesuai kemampuan dan potensi wilayah masing-masing.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan masyarakat, komunitas, dan berbagai elemen untuk mewujudkan ketahanan pangan sekaligus menyukseskan program Desa HELAU. Kami ingin Kopi Natarku hadir sebagai bagian dari solusi, bukan hanya menjadi penonton. Kalau setiap komunitas mengambil peran sesuai kemampuannya, saya yakin gerakan ketahanan pangan akan semakin kuat,” ujarnya.
Bagi Susilo, tantangan musim kemarau menjadi pengingat bahwa pertanian membutuhkan ketekunan, perencanaan, dan kemampuan beradaptasi. Ketika air mengering, upaya mencari sumber air alternatif menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan budidaya.
Gerakan ini diharapkan tidak berhenti pada penanaman labu semata, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk memanfaatkan lahan yang tersedia dan mengembangkan kegiatan produktif sesuai potensi daerah.
Lebih jauh, inisiatif tersebut membawa pesan bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama. Kemandirian tidak tumbuh hanya dari wacana, melainkan dari keberanian mengambil langkah, kesediaan menghadapi kesulitan, dan konsistensi dalam menjalankan usaha.
Dari lahan tiga hektare itu, Kopi Natarku berupaya menanam lebih dari sekadar labu. Ada semangat gotong royong, kemandirian, kepedulian terhadap masa depan pangan, dan dukungan terhadap pembangunan desa yang ingin ditumbuhkan.
Sebab, ketika kemarau menguji dan air menjadi persoalan, ketahanan bukan sekadar kemampuan bertahan. Ketahanan juga berarti kemauan untuk terus mencari jalan agar kehidupan tetap tumbuh dan harapan tetap terjaga.





