Gentala Arasy Batanghari dan Gema Pembebasan Al-Aqsha

JAMBI | LAMPUNGKU.COM – Matahari Senin (1/6/2026) siang perlahan melandai ketika langkah kaki kami tim Aqsa Working Group (AWG) didampingi Ari Rudi Hartono dari Ponpes Tahfidz Al-Fatah Muaro Jambi menapaki Jembatan Gentala Arasy, ikon yang membentang anggun di atas Sungai Batanghari, Kota Jambi.

Cahaya keemasan belum sepenuhnya jatuh ke ufuk barat, tetapi sinarnya sudah mulai melembut, memantul di permukaan sungai yang mengalir tenang membawa cerita dari masa ke masa.

Bacaan Lainnya

Dari ketinggian jembatan, Batanghari terlihat seperti lembaran panjang sejarah yang tak pernah selesai ditulis. Airnya bergerak perlahan, sementara perahu-perahu kecil sesekali melintas, meninggalkan riak yang segera menyatu kembali dengan arus.

Di kejauhan, siluet Menara Gentala Arasy berdiri tegak, seolah menjadi penanda bahwa tempat ini bukan sekadar ruang untuk menikmati panorama, melainkan ruang tempat sejarah, budaya, dan nilai-nilai kehidupan bertemu.

Siang beranjak sore membuat suasana terasa lebih bersahabat. Angin sungai datang bergantian, membawa kesejukan di tengah hangatnya cuaca. Beberapa pengunjung berjalan santai menyusuri jembatan, berhenti sejenak untuk memandang bentangan Batanghari yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Jambi sejak berabad-abad lalu.

Nama “Gentala Arasy” sendiri kerap mengundang rasa penasaran. Bagi masyarakat Jambi, nama itu bukan sekadar penanda sebuah jembatan atau menara. Ia mengandung makna filosofis yang lekat dengan sejarah dan karakter budaya Melayu di daerah tersebut.

Secara umum, kata “gentala” dimaknai sebagai gema atau bunyi yang bergema, sementara “arasy” merujuk pada singgasana tertinggi dalam ajaran Islam. Dari perpaduan keduanya lahir makna yang sering diartikan sebagai gema yang sampai ke arasy. Sebuah simbol tentang pesan, nilai, atau kebaikan yang terus bergaung melampaui ruang dan waktu.

Makna itu terasa selaras dengan posisi Gentala Arasy yang berdiri berkelok membelah sungai Batanghari. Sungai ini sejak lama menjadi jalur perniagaan, pusat pertemuan masyarakat, sekaligus saksi perjalanan peradaban Melayu Jambi. Dari sungai inilah berbagai pengaruh budaya, pengetahuan, dan ajaran agama berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah.

Di ujung jembatan berdiri Menara Gentala Arasy yang menjadi salah satu ikon kota. Bangunan tersebut melengkapi kawasan yang tidak hanya menawarkan panorama, tetapi juga menyimpan informasi mengenai sejarah perkembangan Islam di Jambi. Kehadirannya memperkuat identitas kawasan sebagai ruang yang menghubungkan wisata, sejarah, dan budaya. Sayang tertulis ”Tutup” di depan pintunya saat akan masuk menjelajahi nilai–nilai Islam di dalamnya.

Semakin jauh melangkah, semakin luas pemandangan yang tersaji. Di satu sisi tampak wajah kota yang terus berkembang dengan aktivitas modernnya. Di sisi lain terlihat kawasan Seberang Kota Jambi yang masih menyimpan jejak-jejak budaya Melayu. Keduanya berdiri berhadapan, dipersatukan oleh bentangan jembatan yang menjadi penghubung di atas Batanghari.

Waktu terus bergerak. Matahari mulai turun lebih rendah, mengubah warna langit menjadi semburat keemasan. Pantulan cahaya di permukaan sungai menyerupai serpihan kaca yang berkilau. Suasana yang semula terang perlahan berubah hangat dan teduh.

Di momen seperti itu, Gentala Arasy menghadirkan kesan yang berbeda. Ia tidak tampak sebagai bangunan baja dan beton semata. Ia menjelma menjadi simbol perjalanan panjang sebuah daerah yang tumbuh bersama sungai, menjaga warisan budaya, sekaligus menapaki masa depan.

Tidak sedikit pengunjung yang berhenti di tengah jembatan untuk mengabadikan pemandangan. Namun lebih dari sekadar foto, tempat ini menyimpan pengalaman yang sulit ditangkap oleh kamera. Ada kisah tentang peradaban Melayu, tentang Batanghari yang setia mengalir sejak ratusan tahun lalu, dan tentang nilai-nilai yang terus diwariskan seperti gema yang tak pernah benar-benar hilang.

Ketika sore semakin mendekat dan cahaya matahari perlahan memudar, Gentala Arasy tetap berdiri membentang di atas sungai. Menjadi saksi bisu perjalanan waktu, sekaligus pengingat bahwa setiap daerah memiliki cara sendiri untuk menjaga ingatannya.

Di tengah arus perkembangan kota, Gentala Arasy tetap menjadi penanda yang mengingatkan pada akar budaya masyarakat Jambi. Nama yang disematkan pada jembatan dan menara itu membawa pesan tentang nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi, sebagaimana gema yang terus terdengar meski sumber bunyinya telah lama berlalu.

Gentala Arasy tidak hanya meninggalkan kesan melalui pemandangannya. Ia juga menghadirkan cerita tentang sebuah daerah yang menjaga hubungan antara sungai, sejarah, budaya, dan nilai-nilai Islam yang membentuk identitasnya hingga hari ini.

Ketika langkah kaki meninggalkan jembatan dan cahaya senja mulai nampak di ujung jembatan Gentala Arasy, filosofi tentang gema yang terus menjalar itu menghadirkan renungan lain. Bahwa dalam sejarah, banyak gagasan dan perjuangan besar bertahan bukan karena kekuatan fisiknya, melainkan karena nilai yang terus disuarakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Gagasan tentang keadilan, kemerdekaan, dan pembelaan terhadap yang tertindas adalah di antaranya.

Renungan itu terasa relevan dengan ikhtiar yang selama ini dilakukan Aqsa Working Group dalam menyuarakan pembebasan Masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina. Dari Indonesia yang berjarak ribuan kilometer, pesan tentang kepedulian terhadap Al-Aqsha terus digaungkan melalui edukasi, diplomasi kemanusiaan, hingga aksi solidaritas.

Seperti makna Gentala Arasy, suara itu mungkin berasal dari satu tempat, tetapi gema nilainya melintasi batas wilayah dan menjangkau banyak hati.

Di atas Batanghari yang terus mengalir, filosofi tersebut terasa menemukan maknanya. Sebab kebaikan yang diperjuangkan dengan kesungguhan tidak berhenti pada satu ruang dan satu waktu. Ia bergerak, menyebar, dan hidup melalui orang-orang yang memilih untuk tetap menjaga nurani.

Sebagaimana gema yang menjadi ruh Gentala Arasy, harapan akan kebebasan, keadilan, dan kemerdekaan Al-Aqsha terus disuarakan tanpa mengenal batas geografis, agar tidak hilang ditelan waktu.

Dari Jambi hingga Al-Quds, perjuangan itu berangkat dari keyakinan yang sama, setiap kebaikan yang diperjuangkan dengan ketulusan akan meninggalkan jejak, bergema dari hati ke hati, melintasi generasi, dan tetap hidup selama masih ada manusia yang menjaga nurani dan keberpihakan kepada keadilan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *