Ketika Suami Menjebak Saya Menjadi Pemateri Al-Aqsha

Oleh: Triska Retno Wulandari, Alumni Saladin Camp Tingkat Advance

“Yank, tolong buatkan lima slide PowerPoint tentang letak geografis Baitul Maqdis dari bahan ini, ya.” bunyi chat suami yang masuk siang itu. Permintaan itu terdengar biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan.

Bacaan Lainnya

Saya mengira suami hanya membutuhkan bantuan menyusun materi untuk menjadi pemateri dalam kegiatan Mabit Cinta Al-Aqsha yang diselenggarakan oleh Aqsa Working Group (AWG) bersama Maemuna Center Lampung pada Jum’at hingga Sabtu, 10–11 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta setingkat SD itu memang menghadirkan sejumlah materi seputar Palestina dan Masjid Al-Aqsha.

Sebagai istri, saya tentu membantu. Apalagi poin-poinnya sudah dibuatkan tinggal disusun, tambahkan gambar peta, posisi Palestina di kawasan Asia Barat, negara-negara yang berbatasan dengannya, hingga jarak Indonesia menuju Baitul Maqdis yang mencapai sekitar 8.000 kilometer.

Semua selesai. Saya merasa tugas sudah tuntas. Tiba pagi hari saat jadwal suami menyampaikan materi yang sudah dibuat. Tiba-tiba panitia bagian acara menyampaikan, Beberapa saat kemudian, suami berkata santai, “Nanti yang menyampaikan materinya kamu saja.”

Saya spontan menatapnya. “Lho, kok saya?”. Ia hanya tersenyum.

Saat itulah saya sadar. Permintaan membuat lima slide tadi hanyalah sebuah siasat. Saya bukan sedang membantu menyiapkan materi. Saya sedang dipersiapkan menjadi pemateri.

Saya dijebak.

Rasa gugup langsung datang meski sudah pernah mengikuti Dauroh Baitul Maqdis di Saladin Camp hingga tingkat Advance. Bukan karena materinya sulit, melainkan karena berbicara di depan puluhan peserta selalu menghadirkan tantangan tersendiri terlebih mereka adalah anak-anak.

Saya harus memutar otak mencari bagaimana caranya materi ini bisa dipahami oleh mereka tanpa membuat mereka merasa jenuh dalam proses penyampaiannya. Meski begitu, saya mencoba menenangkan diri. Bukankah saya pernah menghabiskan dua tahun menjadi guru sekolah dasar? Berdiri di depan kelas, menjelaskan pelajaran, dan menghadapi berbagai karakter anak-anak pernah menjadi rutinitas saya.

Pengalaman itu perlahan memberi keberanian. Jika dulu saya mampu menjelaskan pelajaran kepada murid-murid sekolah dasar, mengapa sekarang harus takut menjelaskan tentang Baitul Maqdis?  Akhirnya saya menerima tantangan itu.

Di hadapan sekitar 50 peserta Mabit Cinta Al-Aqsha atas inisiasi ketua panitia kegiatan yang juga oleh sesama alumni Saladin Camp, Siti Muthmainnah, saya memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. “Menurut anak-anak, seberapa jauh jarak Indonesia ke Baitul Maqdis?”

Beragam jawaban muncul. Ada yang menebak lima ribu kilometer. Ada pula yang menjawab sepuluh ribu kilometer. Kemudian saya menampilkan angka itu di layar. Sekitar 8.000 kilometer.

Angka tersebut seketika mengubah cara pandang kami. Delapan ribu kilometer bukanlah perjalanan yang dekat. Jika ditempuh dengan kendaraan darat tentu mustahil. Dengan pesawat pun membutuhkan waktu hampur 24 jam, ditambah transit di beberapa negara.

Namun saya kemudian mengajak peserta melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Jarak geografis memang memisahkan Indonesia dan Baitul Maqdis. Lautan, samudra, serta belasan negara berdiri di antara keduanya. Akan tetapi, sejarah, iman, dan rasa persaudaraan tidak pernah mengenal batas kilometer.

Sejak dahulu, nama Masjid Al-Aqsha telah hidup di tengah masyarakat Indonesia. Anak-anak mengenalnya melalui kisah Isra Mi’raj. Orang tua menyebutnya dalam doa. Para ulama mengajarkan kemuliaannya di mimbar-mimbar masjid. Bahkan ketika banyak orang Indonesia belum pernah menginjakkan kaki di Palestina, mereka sudah merasa memiliki ikatan batin dengan tanah para nabi itu.

Di masjid Hasanah Husin Negararatu, Natar tempat mabit berlangsung, saya melihat mata para peserta mulai berbinar. Lima slide yang semula saya anggap terlalu sederhana ternyata mampu membuka antusias anak-anak yang penuh semangat.

Ketika saya mulai menampilkan film dokumenter tentang seberapa luasnya dan banyaknya bangunan di dalam wilayah sekitar Masjid Al-Aqsha di tahun 2015. Saya mulai bertanya pada mereka tentang bagaimana kondisi Baitul Maqdis yang saat ini sedang di jajah habis-habisan oleh Zionis Israel, apa yang dilakukan Zionis Israel pada Baitul Maqdis juga bagaimana perasaan mereka melihat kondisi Baitul Maqdis saat ini.

Mereka mulai memperhatikan tentang posisi Palestina, mengapa Baitul Maqdis menjadi kota yang diperebutkan dan menjadi kota penting untuk dijaga kemuliaannya, serta bagaimana menunjukkan kepada mereka bahwa umat Islam di Indonesia dapat menunjukkan kepedulian meski terpisah ribuan kilometer.

Saya pun menyadari bahwa materi geografi ternyata bukan sekadar pelajaran tentang peta. Ia adalah pelajaran tentang kedekatan. Delapan ribu kilometer memang tidak bisa dipendekkan.

Namun rasa peduli mampu menjembataninya. Kepedulian dapat hadir melalui doa, edukasi, penyebaran informasi yang benar, bantuan kemanusiaan, hingga menumbuhkan kesadaran kepada generasi muda bahwa Masjid Al-Aqsha bukan hanya milik bangsa Palestina, melainkan bagian dari sejarah peradaban Islam.

Sesekali saya masih tersenyum sendiri ketika mengingat bagaimana semua ini bermula. Hanya karena sebuah permintaan membuat lima slide PowerPoint.

Saya benar-benar tidak menyangka akan berdiri di depan peserta sebagai pemateri. Kalau sejak awal suami berkata terus terang, mungkin saya akan menolak atau meminta waktu lebih lama untuk bersiap. Rupanya, ia mengenal saya lebih baik. Kadang seseorang baru berani melangkah ketika tidak diberi kesempatan untuk terlalu lama memikirkan rasa takutnya.

Semua itu mengingatkan saya akan pengalaman sama saat menjadi Sekjend BEM Fakultas Tarbiyah UIN Raden Intan Lampung tahun 2008, momen di mana saya pernah dijebak untuk bicara di depan puluhan mahasiswa jurusan PGMI secara spontan tanpa persiapan apapun. Pada akhirnya itu terjadi lagi pada saya dan menjadi modal keyakinan saya untuk menerima jebakan lagi.

Saya memang sempat deg-degan. Bahkan beberapa menit sebelum materi dimulai, jantung terasa berdetak lebih cepat. Namun setelah kata pertama terucap, semua berjalan mengalir. Pengalaman mengajar anak-anak SD rupanya belum benar-benar hilang. Cara menjelaskan dengan bahasa sederhana justru membuat materi lebih mudah dipahami peserta.

Mungkin inilah pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari Mabit Cinta Al-Aqsha. Bukan hanya tentang letak geografis Baitul Maqdis yang berjarak sekitar 8.000 kilometer dari Indonesia, tetapi juga tentang keberanian yang sering kali muncul dari situasi yang tidak direncanakan.

Kadang Allah menghadirkan jalan melalui cara yang tidak kita duga. Sebuah permintaan sederhana dapat berubah menjadi amanah. Sebuah rasa gugup dapat berubah menjadi kepercayaan diri. Dan sebuah presentasi lima slide mampu menghubungkan puluhan hati dengan sebuah kota suci yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Teringat apa yang selalu ditegaskan oleh Prof. El Uwaisy, Pakar Hubungan Internasional yang juga pakar Baitul Maqdis selama saya mengikuti Dauroh Baitul Maqdis di Saladin Camp kerjasama Syarikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) dan Aqsa Working Group (AWG).

“Bebaskan pikiran kita sebelum membebaskan Baitul Maqdis. Tugas kalian adalah menjadikan Baitul Maqdis sebagai pembicaraan sehari-hari, menjadi topik hangat di kalangan masyarakat,” ujar Prof. El Uwaisy yang terngiang di fikiran.

Pada akhirnya, saya tidak lagi mengingat rasa “dijebak” itu sebagai sesuatu yang menyebalkan. Saya justru bersyukur pernah dijebak.

Sebab dari jebakan kecil itulah saya belajar bahwa jarak 8.000 kilometer bukanlah penghalang untuk mengenalkan Baitul Maqdis kepada generasi penerus. Justru dari ruang-ruang kecil seperti Mabit Cinta Al-Aqsha, kepedulian itu tumbuh, menyebar, lalu perlahan mendekatkan Indonesia dengan Al-Aqsha—bukan secara geografis, melainkan melalui hati yang sama-sama berharap suatu hari nanti tanah suci itu kembali merasakan kedamaian dan kemerdekaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *