Oleh: Nurhadis, Wartawan dan Aktivis Kemanusiaan
LAMPUNGKU.COM – Peluit panjang di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat menandai lahirnya juara baru dunia. Spanyol menaklukkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2026. Bagi sebagian besar orang, itu adalah kemenangan sepak bola. Namun bagi saya, sebagai wartawan yang juga terlibat dalam berbagai misi kemanusiaan untuk Palestina, kemenangan itu memiliki makna yang jauh lebih luas.
Di balik selebrasi para pemain Spanyol, saya melihat Palestina ikut berdiri di podium kemenangan.
Bendera Palestina berkibar di tribun. Keffiyeh melingkari leher sejumlah suporter. Di media sosial, warga Gaza dan para pendukung Palestina di berbagai belahan dunia ramai-ramai menyampaikan dukungan kepada Spanyol. Mereka seolah tidak sedang memilih sebuah tim sepak bola, melainkan memilih siapa yang selama ini mereka rasakan lebih dekat dengan perjuangan kemanusiaan.
Saya memahami mengapa itu terjadi.
Selama beberapa tahun terakhir, Spanyol menjadi salah satu negara Eropa yang paling konsisten menyuarakan hak-hak rakyat Palestina. Pemerintahnya mengambil langkah-langkah diplomatik yang berani. Di jalan-jalan Madrid, Barcelona, Sevilla, dan kota-kota lain, ribuan warga berkali-kali turun ke jalan membawa bendera Palestina. Solidaritas itu tidak lahir ketika Piala Dunia dimulai, tetapi telah tumbuh jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.
Pengalaman saya bersama para aktivis internasional semakin menguatkan keyakinan itu.
Dalam misi Freedom Flotilla Coalition di Turkiye 2024 dan Global Sumud Flotilla di Tunisia 2025, saya bertemu banyak pejuang kemanusiaan dari berbagai negara. Salah satu perjumpaan yang paling membekas adalah dengan Ada Colau, mantan Wali Kota Barcelona, Spanyol.
Saya melihat sosok yang sederhana, hangat, dan tidak berjarak dengan para aktivis. Ia hadir bukan untuk membangun citra politik, melainkan karena keyakinannya bahwa Palestina adalah persoalan kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan. Dari pertemuan di Turkiye hingga kembali berjumpa di Tunisia, saya menangkap satu pesan yang sama, membela Palestina bukan sekadar keberpihakan politik, tetapi keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan.
Perjumpaan itu membuat saya semakin memahami mengapa solidaritas terhadap Palestina begitu hidup di Spanyol. Negara itu tidak hanya memiliki pemerintah yang mengambil sikap diplomatik, tetapi juga masyarakat sipil yang terus menjaga suara kemanusiaan agar tidak tenggelam oleh kepentingan geopolitik.
Karena itulah, saya tidak terkejut ketika banyak warga Palestina dan pendukung perjuangan Palestina di seluruh dunia memilih mendukung Spanyol pada laga final.
Sebaliknya, sebagian di antara mereka mengaku enggan mendukung Argentina. Bukan karena kualitas sepak bolanya, melainkan karena adanya kekecewaan terhadap Lionel Messi yang dinilai tidak pernah menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap penderitaan rakyat Palestina. Di mata mereka, Spanyol lebih merepresentasikan harapan akan keberanian menyuarakan keadilan dibanding sekadar kejayaan di lapangan hijau.
Tentu setiap orang bebas mendukung tim mana pun. Namun pilihan itu memperlihatkan bahwa dalam sepak bola modern, nilai dan sikap sebuah bangsa juga ikut dipertimbangkan oleh para pendukungnya.
Sebagai wartawan, saya terbiasa menulis tentang skor, statistik, dan jalannya pertandingan. Namun perjalanan saya bersama para aktivis Palestina mengajarkan bahwa ada kisah-kisah yang tidak pernah tercatat di papan skor.
Saya masih mengingat suasana bersama para relawan Freedom Flotilla Coalition. Ada dokter, pengacara, jurnalis, nelayan, mahasiswa, veteran, hingga tokoh agama dari berbagai benua. Mereka datang dengan bahasa yang berbeda, tetapi membawa pesan yang sama, Gaza tidak boleh dibiarkan sendirian.
Di Tunisia, semangat itu kembali saya rasakan dalam Global Sumud Flotilla. Saya melihat bagaimana Palestina mampu menyatukan manusia lintas agama, lintas bangsa, dan lintas ideologi. Mereka mungkin tidak memiliki hubungan darah dengan Palestina, tetapi memiliki hubungan nurani yang jauh lebih kuat.
Pengalaman-pengalaman itulah yang terlintas di benak saya ketika Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia.
Saya tidak hanya melihat Ferran Torres mencetak gol kemenangan. Saya juga melihat wajah-wajah para aktivis yang pernah saya temui. Saya melihat Ada Colau yang begitu teguh menyuarakan Palestina. Saya melihat para relawan yang rela mempertaruhkan keselamatan demi membuka blokade Gaza. Saya melihat anak-anak Palestina yang tetap bermain sepak bola di antara puing-puing bangunan.
Semuanya seolah hadir dalam satu malam yang sama.
Sepak bola memang tidak akan menghentikan perang. Namun sepak bola memiliki kekuatan untuk mengingatkan dunia bahwa masih ada rakyat yang belum memperoleh keadilan. Stadion menjadi ruang tempat pesan-pesan kemanusiaan melintasi batas negara, bahasa, dan agama.
Trofi emas akhirnya menjadi milik Spanyol. Tetapi malam itu, saya percaya ada kemenangan lain yang tidak kalah penting. Kemenangan bagi mereka yang terus mengibarkan bendera Palestina ketika sebagian dunia memilih diam.
Kemenangan bagi mereka yang percaya bahwa olahraga bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga tentang keberanian membela nilai-nilai kemanusiaan.
Dan bagi saya, kemenangan Spanyol atas Argentina bukan hanya akan dikenang sebagai final yang menentukan juara dunia.
Ia akan dikenang sebagai malam ketika Palestina kembali hadir di panggung dunia, bukan sebagai korban perang, melainkan sebagai simbol perjuangan yang terus hidup di hati jutaan manusia.
Karena pada akhirnya, trofi memang diangkat oleh pemain Spanyol. Namun harapan itu ikut diangkat oleh seluruh mereka yang percaya bahwa keadilan adalah pertandingan yang tidak boleh pernah berhenti diperjuangkan.





