Milea Cutting, Mimpi Besar Anak Natar Bangun Industri Fashion Lampung

BANDAR LAMPUNG | LAMPUNGKU.COM — Sore itu, Kamis (15/10/2026), suasana lantai 3 Hotel Kyriad, Bandar Lampung, perlahan bergerak menuju waktu Maghrib. Di tengah pertemuan JNE dengan insan media, sebuah cerita tentang keberanian, ketekunan, dan arti sebuah kepercayaan mengalir dari Nina Suryani.

Perempuan asal Natar bergelar Sarjana Komputer itu bukan sedang bercerita tentang perjalanan karier yang mulus. Ia mengisahkan bagaimana dirinya berani membelokkan arah hidup, meninggalkan jalur profesional yang pernah digeluti, lalu merintis usaha konveksi fashion dari skala kecil hingga menjadi mitra bagi puluhan merek. Usaha itu bernama Milea Cutting.

Bagi Nina, Milea Cutting bukan sekadar bisnis yang menghasilkan pakaian. Ada mimpi yang ingin diwujudkan, membangun industri fashion di Lampung sekaligus menyediakan ruang bagi merek-merek lokal untuk tumbuh dan berkembang.

Perjalanan itu bermula dari kecintaannya terhadap dunia fashion sejak duduk di bangku kuliah pada 2010. Kala itu, Nina mulai berjualan pakaian dan mengirimkan produknya kepada pelanggan melalui jasa ekspedisi.

Sebelum mendirikan Milea Cutting, ia sempat berkarier sebagai Expert Marketing Bancassurance di PT AIA dan Financial Marketing Executive di PT Bentoel. Namun, pengalaman di dunia profesional tidak membuatnya berhenti mengejar keinginan untuk membangun usaha sendiri.

Pada 2019, Nina mulai menegakkan payung usahanya dengan brand Milea Cutting. Dengan sumber daya yang terbatas, ia memulai usaha tersebut dari skala kecil, hanya dengan satu penjahit dan satu tenaga finishing.

Dari ruang kerja sederhana di Natar itu, ia membangun fondasi bisnisnya sedikit demi sedikit.

Orderan yang semula hanya puluhan potong pakaian berkembang mengikuti kepercayaan pelanggan. Kini, Milea Cutting menjadi mitra bagi lebih dari 20 merek fashion dengan beragam kategori produk.

Dalam empat tahun terakhir, Milea Cutting juga menjalin kerja sama dengan Sugar Group untuk pengadaan seragam pekerjanya.

Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa usaha yang tumbuh dari keterbatasan tidak harus berhenti pada skala kecil. Dengan konsistensi dan kemampuan membaca kebutuhan pasar, peluang yang lebih besar dapat terbuka.

Nina bahkan mulai membawa produk dan layanan bisnisnya menuju pasar Asia Tenggara.

Seiring waktu, Milea Cutting berkembang melampaui bisnis jual beli pakaian. Nina memperluas usahanya menjadi penyedia jasa konveksi fashion sekaligus pendamping bagi para pemilik merek yang ingin membangun bisnisnya sendiri.

Layanan yang ditawarkan mencakup konsultasi merek baru, konsultasi desain, produksi maklon, hingga layanan FOB (Free On Board).

Bagi Nina, pemilik merek tidak selalu membutuhkan vendor yang sekadar menerima pesanan dan menyelesaikan produksi. Mereka juga membutuhkan mitra yang dapat membantu menerjemahkan ide menjadi produk, menjaga kualitas sampel, serta mendampingi proses pertumbuhan bisnis. Milea Cutting mengambil peran itu.

Di Bandar Lampung, Nina juga membangun kolaborasi dengan 22 merek dan mengembangkan layanan untuk kebutuhan seragam perkantoran.

Di balik pertumbuhan tersebut, ada cita-cita yang lebih besar daripada sekadar memperbanyak pesanan.

Ia ingin Lampung memiliki industri konveksi fashion yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, membuka peluang usaha, dan memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.

Sebuah mimpi yang tumbuh dari pertanyaan sederhana, mengapa Lampung tidak memiliki industri fashion sendiri yang semakin kuat dan mampu bersaing?

Namun, perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Di tengah perubahan perilaku konsumen dan melemahnya daya beli, pelaku usaha dituntut untuk lebih cermat mengelola biaya. Masyarakat semakin selektif dalam membelanjakan uang, sementara pemilik merek tetap harus menjaga produknya agar dikenal dan diminati pasar.

Nina memahami tantangan itu. Menurut dia, pemilik merek harus mampu menemukan cara baru untuk memasarkan produk tanpa kehilangan nilai yang menjadi identitas bisnisnya.

Salah satu langkah yang diambil Milea Cutting pada 2026 adalah memangkas anggaran penggunaan KOL dan mengambil peran lebih langsung dalam pemasaran.

Nina memilih turun langsung memperkenalkan produk dan membangun komunikasi dengan calon pelanggan melalui media sosial.

Baginya, kehadiran pemilik merek dalam pemasaran bukan sekadar cara menghemat anggaran. Itu juga menjadi kesempatan untuk memperlihatkan nilai, kualitas, dan karakter produk secara lebih dekat kepada konsumen.

Ia pun mulai merintis penggunaan Facebook Ads sebagai bagian dari strategi pemasaran digital.

Di tengah derasnya arus konten di media sosial, Nina juga memiliki prinsip yang tidak ingin ditinggalkan, menjaga etika dan budaya Indonesia.

Ia meyakini bahwa produk fashion dapat dipasarkan secara kreatif tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang dijunjung oleh pemilik usaha.

Bagi Nina, bisnis bukan semata-mata tentang bagaimana produk terjual sebanyak-banyaknya. Ada nilai yang harus tetap dijaga ketika sebuah merek berusaha tumbuh.

Sebuah Paket, Panggilan Malam, dan Kepercayaan

Di antara berbagai strategi bisnis yang dibicarakan dalam talkshow tersebut, Nina menyelipkan kisah personal tentang hubungannya dengan JNE.

Kisah itu bermula dari sebuah paket sampel produk fashionnya yang harus segera dikirim untuk digunakan sebagai bahan promosi di Malaysia.

Paket tersebut ternyata tersasar hingga ke Palembang dan bahkan berada sekitar enam jam perjalanan dari pusat kota Palembang

Bagi pelaku usaha yang memiliki tenggat pengiriman, kesalahan seperti itu tentu dapat menimbulkan kekhawatiran. Apalagi, produk yang dikirim harus digunakan di luar negeri.

Dalam situasi yang membutuhkan kecepatan, Nina menghubungi pihak JNE. Tak Tanggung, Kepala Cabang JNE Unit Natar, Yudi Ardiansyah yang ”diomeli” oleh Nina. “Tahu kan gimana ibu-ibu ngomel kalau paketnya salah kirim,” ujarnya.

“Saat itu saya telepon pukul 22.00 WIB dan direspon. Pak Yudi tidak bertele-tele, dia langsung tawarkan solusi, masalah akan diselesaikan,” katanya.

Upaya itu akhirnya membuahkan hasil. Paket Nina akhirnya dilacak kemudian dikirimkan ulang hingga sampai ke tujuan.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan tersendiri bagi Nina. Bukan karena proses pengiriman berjalan tanpa kendala, melainkan karena ada respons dan upaya penyelesaian ketika masalah muncul.

Dari pengalaman itulah, kepercayaannya terhadap JNE semakin kuat.

“Saya lagi merintis Facebook Ads dan kita langsung tunjuk JNE jadi partner jasa pengiriman,” ungkapnya.

Bagi Nina, jasa pengiriman bukan sekadar urusan memindahkan paket dari satu tempat ke tempat lain. Dalam bisnis daring, pengiriman ikut menentukan pengalaman pelanggan, termasuk penilaian dan ulasan yang diberikan kepada toko.

Barang yang bagus perlu didukung pelayanan yang baik. Sebab, pengalaman pelanggan tidak berhenti ketika transaksi selesai, tetapi berlanjut hingga produk diterima.

Itulah sebabnya Nina selalu mengarahkan pelanggan Milea Cutting untuk menggunakan JNE.

Keputusan tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan bisnis tidak hanya dibangun melalui harga dan penawaran, tetapi melalui pengalaman, komunikasi, dan kepercayaan yang tumbuh ketika seseorang membutuhkan bantuan.

Dalam perjalanan bisnisnya, Nina berusaha memegang satu prinsip, usaha harus memberikan manfaat bagi orang lain.

Prinsip itu pula yang ingin ia bawa dengan membangun kolaborasi antara pelaku UMKM, media, dan penyedia jasa pengiriman.

Ia berharap ketiganya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung untuk menghidupkan roda perekonomian, khususnya di Lampung.

Pelaku UMKM membutuhkan pasar dan akses distribusi. Media memiliki peran menyampaikan informasi agar produk, inovasi, dan cerita di balik sebuah usaha dapat dikenal lebih luas. Sementara itu, jasa pengiriman menjadi penghubung yang memungkinkan produk menjangkau pelanggan lintas wilayah.

Jika ketiganya bekerja bersama, peluang pertumbuhan akan semakin terbuka.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sekitarnya,” kata Nina, menggambarkan nilai yang ingin ia bawa dalam perjalanan usahanya.

Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa besar bisnis berkembang, tetapi juga tentang berapa banyak orang yang ikut merasakan manfaat dari pertumbuhan tersebut.

Sore di lantai 3 Hotel Kyriad itu pun menyisakan satu pesan dari perjalanan seorang perempuan yang memilih membangun usaha dari bawah, mimpi besar tidak selalu dimulai dengan modal besar.

Kadang, ia bermula dari satu penjahit, satu tenaga finishing, dan keberanian untuk mencoba.

Dari sana, langkah demi langkah dijalani. Pelanggan datang, kolaborasi tumbuh, tantangan berganti, dan peluang baru terbuka.

Bagi Nina Suryani, Milea Cutting masih terus bertumbuh. Namun, arah yang ingin ditujunya tetap sama, membangun industri fashion yang kuat, merawat kepercayaan, dan menjadikan bisnis sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi sesama sehingga sejalan dengan semangat 36 tahun JNE, Melesat Hebat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *