BANDAR LAMPUNG | LAMPUNGKU.COM – Ribuan orang bakal terlibat dalam Festival Krakatau XXXV Tahun 2026. Berbagai even mulai Lampung Tapis Karnaval dengan sekitar 6.000 peserta, Krakatau Run 1.500 peserta, hingga Festival Kuliner dengan lebih dari 50 tenant. Dikutip dari lampungprov.go.id Sabtu (15/8/2026), berikut fakta menarik terkait Festival Krakatau.
Pada festival yang digelar 25–30 Agustus di Bandar Lampung ini hampir 95 persen pembiayaan dihimpun melalui dukungan dan sinergi berbagai pihak, mulai dari sektor swasta, BUMN, BUMD hingga mitra terkait. Festival ini juga tercatat dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Festival Krakatau XXXV mengusung tema “Nengah Nyappur” yang merepresentasikan nilai kebersamaan, keterbukaan, gotong royong dan semangat kolaborasi dalam pengembangan pariwisata Lampung.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, mengatakan penyelenggaraan Festival Krakatau merupakan wujud kolaborasi lintas sektor.
“Pola kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan penyelenggaraan event yang berkualitas sekaligus mendorong keterlibatan semakin luas dari dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan pariwisata,” ujarnya.
Festival Krakatau XXXV dirancang tidak berhenti sebagai perhelatan seremonial, tetapi juga diarahkan menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat serta memperkuat daya saing pariwisata Lampung di tingkat nasional.
Peningkatan kunjungan wisatawan diharapkan mendorong pertumbuhan UMKM, sektor kuliner, ekonomi kreatif, perhotelan, transportasi, pusat perbelanjaan hingga berbagai usaha jasa pariwisata.
Pemerintah Provinsi Lampung juga menargetkan penyelenggaraan festival mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan, memperluas transaksi ekonomi serta membuat belanja wisatawan memberikan efek berganda bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Sejalan dengan itu, rangkaian Festival Krakatau XXXV mempertemukan wisatawan, pelaku UMKM, komunitas, seniman, pelaku ekonomi kreatif serta dunia usaha dalam satu ekosistem pariwisata.
Selain Festival Kuliner Krakatau dengan lebih dari 50 tenant, agenda yang disiapkan meliputi Krakatau Coffee Expo, kompetisi barista, berbagai perlombaan seni dan budaya, Seruit Battle (Serbet), Krakatau Run dengan kapasitas 1.500 peserta, hingga Lampung Tapis Karnaval yang diproyeksikan melibatkan sekitar 6.000 peserta.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang promosi bagi kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat Lampung sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha memperkenalkan produk dan jasanya kepada masyarakat maupun wisatawan.
Festival juga diperkuat dengan program Krakatau Great Sale yang berlangsung pada 20–30 Agustus 2026. Program ini melibatkan sektor perhotelan, restoran dan pusat perbelanjaan melalui berbagai penawaran khusus bagi wisatawan.
Program tersebut diharapkan semakin memperkuat daya tarik kunjungan sekaligus memperluas perputaran ekonomi selama periode festival.
Keterlibatan berbagai komunitas dan pelaku industri pariwisata diharapkan mampu membangun pengalaman wisata yang lebih beragam. Festival Krakatau juga diharapkan menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal berbagai destinasi dan produk unggulan Lampung.
Pemerintah Provinsi Lampung memandang pengembangan pariwisata sebagai bagian penting dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, Festival Krakatau diarahkan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan sektor pariwisata dengan ekonomi kreatif, budaya, kuliner, perdagangan, transportasi, perhotelan hingga sektor pendukung lainnya.
Penguatan ekosistem tersebut menjadi penting agar potensi wisata alam, kekayaan budaya, kuliner khas serta kreativitas masyarakat Lampung dapat dikembangkan secara terpadu dan memiliki daya saing yang lebih kuat.
Festival Krakatau sendiri telah menjadi salah satu event unggulan Lampung dan tercatat dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Keberadaannya menjadi peluang strategis untuk semakin memperkenalkan potensi Lampung kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Tidak hanya berfokus pada pelaksanaan kegiatan, Pemerintah Provinsi Lampung juga menekankan pentingnya pengukuran dampak ekonomi dan pariwisata dari penyelenggaraan Festival Krakatau.
Data mengenai jumlah kunjungan wisatawan, transaksi UMKM, aktivitas ekonomi, jangkauan promosi digital serta indikator lainnya akan menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat efektivitas penyelenggaraan event sekaligus menjadi dasar penyempurnaan Festival Krakatau pada tahun-tahun berikutnya.
Langkah tersebut diharapkan membuat penyelenggaraan event semakin berbasis data dan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kontribusi festival terhadap pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Festival Krakatau XXXV menjadi gambaran bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan pemerintah secara sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, BUMN dan BUMD, pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, komunitas, masyarakat, media hingga berbagai pihak lainnya.
Melalui semangat Nengah Nyappur, Festival Krakatau XXXV diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkenalkan kekayaan Lampung, memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat, meningkatkan kunjungan wisatawan serta memperkuat posisi Lampung sebagai salah satu destinasi pariwisata yang semakin berdaya saing di Indonesia.
Dengan demikian, Festival Krakatau bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan bagian dari strategi membangun ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang inklusif, kolaboratif dan berkelanjutan, sekaligus membawa potensi Lampung semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.





