Oleh: Fatimah Azzahra, Mahasiswi Jurusan Psikologi Islam UIN Raden Intan Lampung
BANDAR LAMPUNG | LAMPUNGKU.COM – Banyak orang tua memiliki harapan bahwa ketika anak beranjak dewasa, hubungan dalam keluarga akan menjadi lebih mudah. Anak dianggap telah mampu berpikir matang, memahami pengorbanan orang tua, dan tidak lagi sering membantah.
Namun, realitas tidak selalu demikian. Tidak sedikit keluarga yang justru mengalami konflik lebih sering ketika anak memasuki usia dewasa. Perbedaan pendapat menjadi lebih tajam, percakapan sederhana berubah menjadi perdebatan, dan hubungan yang dahulu terasa dekat perlahan menjadi renggang.
Fenomena ini telah lama menjadi perhatian para psikolog keluarga. Penyebabnya sering kali bukan karena anak berubah menjadi pribadi yang buruk atau orang tua kehilangan kasih sayangnya, melainkan karena pola hubungan di antara keduanya tidak ikut berkembang seiring bertambahnya usia anak.
Dalam psikologi perkembangan, masa dewasa ditandai dengan kebutuhan seseorang untuk memperoleh otonomi atau kemandirian. Anak yang telah dewasa mulai membangun identitasnya sendiri, mengambil keputusan berdasarkan nilai yang diyakininya, serta belajar bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Kebutuhan tersebut merupakan bagian normal dari proses menjadi orang dewasa.
Persoalan muncul ketika sebagian orang tua masih menggunakan pola pengasuhan yang sama seperti ketika anak masih kecil. Mereka tetap merasa harus mengatur hampir seluruh aspek kehidupan anak, mulai dari pekerjaan, pasangan hidup, cara mengelola keuangan, hingga keputusan-keputusan pribadi. Niatnya mungkin baik, yaitu ingin melindungi anak dari kesalahan. Namun, bagi anak yang telah dewasa, perlakuan tersebut sering dipersepsikan sebagai bentuk ketidakpercayaan.
Akibatnya, komunikasi berubah menjadi tarik-menarik antara keinginan mengendalikan dan kebutuhan untuk dihargai. Orang tua merasa anak membangkang, sedangkan anak merasa dirinya tidak pernah dianggap mampu.
Penelitian psikologi juga menunjukkan bahwa cara penyampaian pesan jauh lebih berpengaruh daripada isi pesannya. Kritik yang disampaikan terus-menerus, terlebih tanpa diimbangi apresiasi, dapat membuat seseorang lebih mudah bersikap defensif. Dalam hubungan orang tua dan anak, kondisi ini menyebabkan nasihat yang sebenarnya baik justru terdengar seperti tuduhan atau serangan terhadap harga diri.
Sebaliknya, ketika orang tua lebih sering memberikan pengakuan atas usaha anak sebelum menyampaikan masukan, peluang nasihat diterima dengan baik menjadi lebih besar. Anak dewasa tetap membutuhkan bimbingan, tetapi mereka juga membutuhkan rasa dihargai sebagai individu yang mampu berpikir dan mengambil keputusan.
Konflik yang terjadi saat anak dewasa juga sering merupakan akumulasi dari pengalaman masa kecil. Psikologi mengenal konsep bahwa pengalaman emosional dalam keluarga dapat memengaruhi pola komunikasi hingga bertahun-tahun kemudian.
Anak yang sejak kecil lebih sering menerima perintah daripada dialog mungkin tumbuh menjadi pribadi yang enggan terbuka kepada orang tuanya. Demikian pula anak yang jarang mendapatkan penghargaan atas usahanya dapat lebih sensitif terhadap kritik.
Hal ini bukan berarti orang tua harus menyalahkan diri sendiri atas semua masalah yang muncul. Setiap keluarga memiliki tantangan masing-masing. Namun, menyadari adanya pola komunikasi lama merupakan langkah penting untuk memperbaiki hubungan.
Salah satu perubahan sikap yang perlu dimiliki orang tua adalah beralih dari peran pengendali menjadi pendamping. Ketika anak masih kecil, orang tua memang bertugas mengambil keputusan bagi mereka. Akan tetapi, ketika anak telah dewasa, peran tersebut berubah menjadi pemberi masukan, tempat berdiskusi, dan sumber kebijaksanaan. Nasihat yang diminta biasanya lebih mudah diterima daripada nasihat yang dipaksakan.
Selain itu, kemampuan mendengarkan menjadi kunci penting. Banyak konflik muncul bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena masing-masing merasa tidak didengar. Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui pilihan anak, tetapi memberikan ruang bagi mereka untuk menjelaskan alasan dan sudut pandangnya tanpa langsung dipotong atau dihakimi.
Orang tua juga perlu menerima bahwa anak dewasa berhak membuat kesalahan. Selama keputusan yang diambil tidak membahayakan dirinya maupun orang lain, pengalaman sering kali menjadi guru yang lebih efektif daripada larangan. Memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dari konsekuensi pilihannya merupakan bentuk kepercayaan yang dapat memperkuat hubungan.
Di sisi lain, anak juga memiliki tanggung jawab menjaga adab kepada orang tua. Kemandirian tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap kasar atau meremehkan nasihat. Perbedaan pendapat tetap dapat disampaikan dengan bahasa yang santun dan penuh penghormatan.
Hubungan orang tua dan anak bukan hubungan yang berhenti berkembang setelah anak mencapai usia tertentu. Sebaliknya, hubungan tersebut membutuhkan penyesuaian sepanjang kehidupan. Orang tua belajar mengurangi kontrol dan memperbanyak kepercayaan, sementara anak belajar meningkatkan tanggung jawab dan penghormatan.
Dalam perspektif Islam, teladan komunikasi antara orang tua dan anak dapat ditemukan dalam kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, sebagaimana diabadikan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102. Ketika Nabi Ibrahim menerima wahyu melalui mimpi agar menyembelih putranya, beliau tidak menyampaikan perintah itu dengan nada memaksa.
Padahal, sebagai seorang nabi sekaligus ayah, beliau memiliki otoritas penuh. Namun, yang dilakukan justru membuka ruang dialog. Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”.
Kalimat “maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu” menunjukkan penghormatan kepada Ismail sebagai pribadi yang layak diajak berdiskusi, meskipun perintah tersebut berasal dari Allah SWT.
Respons Nabi Ismail pun lahir bukan karena tekanan, melainkan dari kesadaran dan keimanan. Ia menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Dialog yang singkat tetapi penuh makna ini mengajarkan bahwa komunikasi yang dibangun di atas rasa hormat akan melahirkan ketaatan yang lahir dari hati, bukan sekadar kepatuhan karena takut.
Pelajaran penting bagi orang tua masa kini adalah bahwa semakin dewasa anak, semakin penting melibatkan mereka dalam percakapan dan pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka. Membuka ruang dialog bukan berarti mengurangi kewibawaan orang tua, melainkan menunjukkan kedewasaan dalam mendidik.
Ketika anak merasa didengar dan dihargai, mereka cenderung lebih terbuka menerima nasihat. Sebaliknya, komunikasi yang hanya berisi perintah, larangan, dan penilaian sering kali memicu penolakan, sekalipun tujuan orang tua sebenarnya baik.
Teladan Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kasih sayang dan musyawarah mampu berjalan beriringan, bahkan dalam menghadapi ujian yang paling berat SEKALIPUN. Pada akhirnya, keluarga yang harmonis bukanlah keluarga yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan keluarga yang mampu mengelola perbedaan dengan saling menghargai.
Ketika orang tua memilih mendengar sebelum menghakimi, memberikan kepercayaan sebelum mencurigai, dan mendampingi sebelum mengendalikan, anak akan lebih mudah membuka hati. Dari situlah hubungan yang hangat dapat kembali tumbuh, bukan karena salah satu pihak selalu benar, tetapi karena keduanya sama-sama bersedia bertumbuh bersama.




