LAMPUNG SELATAN | LAMPUNGKU.COM – Suara percikan bara dan asap pekat yang dulunya kerap menyelimuti langit Dusun 2, Desa Margo Lestari, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan kini mulai sirna. Sebuah struktur berbentuk tungku tertutup berdiri tegak sebagai bukti kolaborasi antara mahasiswa Universitas Lampung (Unila) dengan masyarakat dalam mengubah cara pengelolaan sampah yang selama ini menjadi beban.
Fahmi Daris, mahasiswa Teknik Pertanian yang menjadi ketua tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) periode I tahun 2026, mengakui bahwa awalnya ide pembuatan insinerator minim asap muncul dari kekhawatiran mendalam terhadap kondisi sekitar.
“Kita melihat sendiri, warga tidak punya pilihan lain selain membakar sampah di luar terbuka atau menimbunkannya. Asapnya menyengat, bahkan seringkali masuk ke dalam rumah dan membuat anak-anak batuk,” ujarnya dengan nada penuh perhatian sebagaimana dikutip dari laman resmi unila.ac.id.
Riska (Kimia), Habib (Teknologi Hasil Pertanian), Ilham Oktora (Sosiologi), Ovita (Ekonomi dan Bisnis), Nafiska (Hubungan Internasional), Adel (Teknik Pertanian), Andhira (Teknik Geofisika), Faiz (Agronomi dan Hortikultura), Kaisar (Ilmu Administrasi Negara), serta Yusuf (Ekonomi Pembangunan). Kegiatan ini didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), M. Wendy Trijaya, S.H., M.Hum
Bersama sepuluh rekannya dari berbagai jurusan – Riska (Kimia), Habib (Teknologi Hasil Pertanian), Ilham Oktora (Sosiologi), Ovita (Ekonomi dan Bisnis), Nafiska (Hubungan Internasional), Adel (Teknik Pertanian), Andhira (Teknik Geofisika), Faiz (Agronomi dan Hortikultura), Kaisar (Ilmu Administrasi Negara), serta Yusuf (Ekonomi Pembangunan) juga didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), M. Wendy Trijaya, S.H., M.Hum. – Fahmi tidak hanya membawa buku teori, tetapi juga kemauan untuk mendengar suara masyarakat.
Menurut Fahmi, desain insinerator tidak dibuat sembarangan. “Kita diskusikan bersama aparatur desa dan beberapa warga yang punya pengalaman konstruksi. Bahkan, pemilihan material seperti hebel dan besi 8 milimeter juga dipertimbangkan secara matang agar tahan panas dan awet,” katanya.
Sustian, salah satu warga Dusun 2 yang sudah menggunakan insinerator tersebut, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Asapnya sangat sedikit, dan tidak ada lagi tumpukan sampah yang bau di sekitar rumah,” katanya.
Insinerator yang memiliki tiga lapisan khusus itu bekerja dengan cara yang berbeda dari pembakaran sembarangan. Ruang ventilasi di bagian bawah membantu menghasilkan suhu tinggi sehingga pembakaran lebih maksimal, sementara cerobong yang dirancang khusus mampu meminimalkan emisi asap. Hanya saja, warga harus sedikit berhati-hati – sampah kaca dan karet tidak boleh dimasukkan karena bisa menghasilkan asap hitam pada tahap awal.
Setelah melalui tahap uji coba dan sosialisasi yang intensif, tim KKN berharap insinerator ini bukan hanya menjadi sebuah fasilitas sementara.
“Program ini memberikan alternatif pengelolaan sampah yang lebih tertata bagi masyarakat Desa Margo Lestari. Tim KKN berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga pengelolaan sampah di tingkat desa dapat berlangsung lebih sistematis dan ramah lingkungan,” ujar Fahmi.
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui bagaimana model insinerator serupa bisa diterapkan di daerah lain sesuai dengan kondisi lokal setempat?





