BANDAR LAMPUNG | LAMPUNGKU.COM – “Kopi hitam ngk pake gula ya bu,” pintaku pada ibu pedagang di kios kecil sebuah pertigaan Jl. Raden Intan Bandar Lampung. “Iya Mas, tapi pake gelas plastik ya Mas, soalnya saya sudah mau tutup,” jawabnya. “Masih siang udah tutup aja Bu,” jawabku lagi. “Iya Mas, saya tutup warung kalau waktu shalat,” timpalnya.
Sekelumit percakapan saya siang ini bersama seorang pedagang kaki lima, di tengah riuh lalu lintas dan denyut ekonomi di sudut pertigaan toko buku Gramedia, kawasan Kecamatan Enggal Bandar Lampung yang menyimpan kisah keteguhan hati.
Di sanalah Sunipah (68) menggantungkan hidupnya—di sebuah kios kecil yang telah ia jalani sejak tahun 1982, bahkan sebelum toko-toko besar menjamur dan pusat perbelanjaan modern hadir di Kota Bandar Lampung .
Kios itu tidak besar, berukuran 1 x 1 M. Sederhana, dengan tali berjejer tergantung bermacam jenis kopi dan minuman sachet, snack, air mineral dan permen. Namun, dari tempat itulah Sunipah membesarkan harapan, menata hidup, dan merawat keyakinan yang tak pernah goyah: rezeki sudah diukur, tak akan tertukar.
“Ngak takut rugi,” ucapnya pelan namun tegas saat ditanya apa tidak rugi dagang ditinggal saat waktu shalat. “Kalau sudah waktunya shalat, ya tutup saja. Rezeki mah sudah ada yang ngatur.”
Bagi sebagian orang, menutup warung di tengah potensi pembeli bisa terasa seperti keputusan berat. Apalagi di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun bagi Sunipah, pilihan itu bukan soal untung atau rugi. Itu soal keyakinan.
Setiap hari, Sunipah mulai berdagang sejak pukul 09.00 pagi hingga pukul 22.00 wib. Namun di jam shalat Dzuhur, Ashar, maghrib, dan Isya dia memilih untuk menutup warung kecilnya.
Bukan karena sepi pembeli, melainkan karena ia memilih pulang ke kontrakannya di seberang jalan tak jauh dari tempatnya berjualan untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Di usia yang tak lagi muda, bahkan ketika kondisi fisiknya membuatnya harus shalat sambil duduk di kursi, Sunipah tetap menjaga ibadahnya.
“Kerja itu penting, tapi shalat itu kewajiban,” katanya. “Kita cari rezeki, tapi jangan sampai lupa sama yang ngasih rezeki.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat kosong. Ia menjalani setiap katanya dengan konsisten, hari demi hari, selama puluhan tahun.
Perjalanan hidup Sunipah bukan tanpa ujian. Suaminya meninggal dunia pada tahun 2009. Sejak saat itu, ia harus melanjutkan hidup dengan kekuatan sendiri. Kini ia tinggal bersama anak semata wayangnya yang sudah berkeluarga, namun tetap memilih berdagang agar tidak bergantung sepenuhnya.
Warung kecil itu menjadi saksi bisu keteguhan seorang perempuan yang tak menyerah pada keadaan. Meski begitu, kehidupan yang dijalaninya masih sederhana. Rumah yang ia tempati hingga kini pun masih berstatus kontrakan.
“Alhamdulillah cukup buat makan sehari-hari,” tuturnya.
Di balik kesederhanaan itu, tersimpan mimpi yang terus ia jaga: berangkat umroh ke Tanah Suci Mekkah. Ia sudah mulai menabung sejak lama. Namun, seperti hidup kebanyakan orang kecil, selalu saja ada kebutuhan mendesak yang membuat tabungannya terpakai.
“Sudah pernah nabung, tapi kepakai lagi,” katanya sambil tersenyum tipis. “Ya mungkin belum waktunya.”
Pandemi COVID-19 juga sempat mengguncang usahanya. Warungnya nyaris terhenti. Ia sempat mengambil pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk bertahan. Usahanya sempat “hancur”, seperti yang ia ungkapkan, namun perlahan ia bangkit kembali. Kini pinjaman itu sudah ia lunasi, dan ia kembali memulai dari awal.
“Selesai ini mau nabung lagi buat umroh,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Keinginan itu semakin kuat sejak ia mendapat kabar tetangganya diberi hadiah berangkat umroh oleh Walikota Bandar Lampung, Bunda Eva yang dikenal telah memberikan puluhan bahkan ratusan warga Bandar Lampung hadiah Umroh. Bukan iri, melainkan menjadi penyemangat baru dalam hidupnya.
“Kalau orang lain bisa, ya kita juga harus punya harapan,” katanya.
Namun di atas semua mimpi itu, ada satu hal yang selalu ia pegang erat: rasa syukur. Sunipah tidak pernah merasa hidupnya kurang. Bahkan, ia melihat kesederhanaan sebagai bentuk kasih sayang Tuhan agar dirinya tetap rendah hati.
“Mungkin kalau saya punya banyak, bisa jadi sombong,” ujarnya. “Jadi ya sudah, terima saja. Yang penting bisa memberi.”
Memberi—itulah yang membuat hidupnya terasa cukup. Meski dalam keterbatasan, Sunipah dikenal suka berbagi. Bagi dia, rezeki bukan hanya soal apa yang diterima, tapi juga apa yang bisa diberikan.
Keyakinannya sederhana namun dalam: rezeki tidak akan tertukar. Tidak perlu takut kehilangan pembeli hanya karena menutup warung sejenak untuk shalat. Justru, setelah ia kembali membuka warung, sering kali pembeli berdatangan.
“Alhamdulillah, habis shalat malah ramai,” katanya sambil tersenyum. Seolah menjadi jawaban langsung atas keyakinannya.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh perhitungan, prinsip hidup Sunipah terasa seperti pengingat yang menyejukkan. Bahwa tidak semua hal harus dihitung dengan logika untung rugi. Ada nilai-nilai yang lebih tinggi, yang justru menjadi sumber ketenangan.
Ia tidak mengejar kekayaan besar. Tidak juga bermimpi menjadi pengusaha sukses dengan banyak cabang. Baginya, hidup yang cukup, hati yang tenang, dan ibadah yang terjaga sudah lebih dari cukup.
Kisah Sunipah adalah cerminan dari banyak sosok sederhana yang sering luput dari perhatian. Mereka mungkin tidak muncul di layar televisi atau menjadi viral di media sosial. Namun dari kehidupan mereka, kita belajar tentang makna keteguhan, keikhlasan, dan kepercayaan penuh kepada Tuhan.
Di warung kecilnya di sudut Kecamatan Enggal, Sunipah terus menjalani hari-harinya dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu. Membuka warung sejak pagi, melayani pembeli dengan ramah, lalu menutupnya sejenak ketika waktu shalat tiba.
Bagi sebagian orang, itu mungkin keputusan kecil. Tapi bagi Sunipah, itulah bentuk ketaatan yang besar. Dan dari situlah ia menemukan ketenangan. “Rezeki itu sudah tertakar,” katanya pelan.
Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung keyakinan yang tak tergoyahkan. Semoga Allah karuniakan Rezeki, Ibu Sunipah bisa berangkat Umroh bahkan Haji.


