SAR Gabungan Wartawan Hilang Kontak, Menyisir Laut Memburu Harapan

BANDAR LAMPUNG | LAMPUNGKU.COM — Pukul 06.00 WIB, Senin (14/9/2026) ketika sebagian besar orang masih bersiap memulai aktivitas, sejumlah orang telah lebih dulu berkumpul di Pelabuhan Panjang.

Mereka datang membawa perlengkapan pencarian, mengenakan seragam masing-masing, lalu memeriksa kembali peralatan sebelum berangkat.

Bacaan Lainnya

Tidak banyak yang dibicarakan. Hanya persiapan. Sebab laut sudah menunggu.

Kapal Negara (KN) SAR Basudewa pagi itu kembali membawa Tim SAR gabungan menuju perairan Gunung Anak Krakatau. Mereka akan kembali menyisir laut untuk mencari lima wartawan yang hilang kontak bersama kapten kapal, anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu.

Ini bukan hari pertama. Bukan pula hari kedua atau ketiga. Ini hari ke tujuh. Dan kami masih berangkat dengan harapan yang sama, menemukan para korban. Hari ini tiga personil dari Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) ikut bergabung.

Di atas kapal, percakapan sesekali mengarah pada satu pertanyaan yang belum terjawab. Ke mana mereka terbawa? Apakah masih ada kemungkinan ditemukan? Di sektor mana pencarian harus diperluas?

Tidak ada seorang pun yang memiliki jawaban pasti. Tetapi tidak ada pula yang memilih berhenti berharap.

KN SAR Basudewa bergerak menuju sektor pencarian Z diantara Pulau Tabuan, Teluk Semaka Tanggamus. Laut menjadi ruang kerja. Peta, koordinat, arah arus dan kondisi cuaca menjadi bagian dari perhitungan.

Sementara mata terus mencari sesuatu di antara bentangan air yang seolah tidak berujung. Laut yang tidak selalu ramah. Bagi Tim SAR, gelombang adalah bagian dari medan operasi.

Namun hari itu, gelombang tetap terasa. Ketika kapal melaju searah gelombang, perjalanan relatif nyaman. Tetapi saat haluan berhadapan dengan gelombang, hentakan terasa lebih kuat.

Bagi saya wartawan Lampungku.com yang ikut dalam perjalanan, tubuh akhirnya menyerah pada guncangan laut. Berbaring menjadi pilihan untuk mengurangi rasa mual.

Di sisi lain kapal, para personel SAR tetap bekerja, berjaga. Bergantian. Makan bersama. Beristirahat ketika mendapat giliran. Lalu kembali mengawasi laut.

Tidak ada yang istimewa dalam keseharian kami di kapal. Justru kesederhanaan itulah yang menggambarkan bagaimana operasi ini dijalani, makan bersama, berjaga bergiliran, lalu kembali mencari.

Menjelang maghrib, belum ada temuan KN. SAR Basudewa yang membawa 27 personil terdiri dari 15 personil Basarnas, dan 12 personil potensi SAR dati TNI, Polairud, dan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR). Kami akhirnya bersandar untuk istirahat di Pelabuhan Tanjung Balai, Tanggamus.

Hari ke delapan pencarian, Selasa, (15/9/2026), pukul 07.00 WIB, Kapten KN SAR Basudewa, Kapt. Muhammad Fadli menyiapkan personil Tim SAR Gabungan. Setelah tujuh hari di laut yang menguji stamina, namun belum memadamkan semangat.

Kami tahu betul bahwa pencarian kali ini tidak hanya berhadapan dengan luasnya laut. Ada Gunung Anak Krakatau. Gunung yang aktivitas erupsinya masih harus menjadi pertimbangan utama keselamatan personel.

Kapten Muhammad Fadli bercerita Saat tim menyisir wilayah antara Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau, empat hari sebelumnya, kondisi gunung masih menunjukkan aktivitas.

Asap terlihat keluar dari puncak. Udara bercampur debu vulkanik. Dan di balik pemandangan itu ada satu kemungkinan yang tidak bisa diabaikan, erupsi dapat kembali terjadi sewaktu-waktu.

“Kalau pencarian kali ini wilayah yang kita sisir Gunung Anak Krakatau, kondisi erupsi masih cukup menjadi antisipasi. Sedangkan korban di sana,” kata Fadli.

Menurut dia, keputusan untuk tetap melakukan pencarian di kawasan tersebut bukan keputusan ringan. Risikonya nyata. Tetapi pencarian juga harus dilakukan. “Potensi erupsi kembali pasti ada,” ujarnya.

Risiko lainnya datang dari laut. Search area yang telah mencapai wilayah samudera membuat tim harus berhadapan dengan gelombang yang dapat mencapai sekitar 2,5 meter.

“Sangat terasa saat melintang melawan ombak. Kalau searah nyaman, kalau melawan sangat terasa,” katanya.

Di hadapan kondisi tersebut, satu persoalan masih sama, belum ada petunjuk yang mengarah kepada para korban. Namun bagi Tim SAR, ketiadaan hasil bukan berarti ketiadaan harapan.

Ketika hasil belum datang, ada titik dalam sebuah operasi pencarian ketika lelah dan ketidakpastian bisa menjadi lebih berat daripada gelombang.

Hari kedelapan adalah salah satunya. Tetapi Kapten Fadli memilih berbicara tentang ikhtiar. “Ikhtiar itu wajib dan utama bagi Tim SAR,” katanya. Kalimat itu menjadi semacam pegangan bagi kami yang setiap hari kembali turun ke laut.

“Halangan dan hambatan bukan berarti membuat kita pesimis atau menyerah. Dengan segala kondisi yang ada, kita bisa maksimalkan dan memberikan yang terbaik bagi pelaksanaan operasi SAR ini.”

Kami memang belum menemukan jawaban. Tetapi masih memiliki tugas. Menjawab teka-teki hilangnya lima jurnalis beserta awak kapal.

Di tengah pencarian, operasi juga berjalan dengan ritme yang sederhana. Personel berjaga secara bergiliran. Ketika satu kelompok bertugas, kelompok lain beristirahat. Kemudian berganti.

Anggota Polairud, Aipda Suyato, mengatakan semangat untuk menjalankan tugas kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena pencarian telah memasuki hari kedelapan.

“Yang penting kita tetap jalankan tugas kemanusiaan, walaupun berat sampai hari ke delapan. Fokus, semangat, semoga berhasil,” katanya.

Di kapal ini, batas antara lelah dan kewajiban menjadi tipis. Kami tidur ketika bisa. Makan ketika waktunya tiba. Dan ketika giliran berjaga datang, kami kembali berdiri menghadap laut.

Operasi SAR bukan hanya tentang koordinat dan peralatan. Di Banten, doa bersama menjadi bagian dari ikhtiar. Tim menerima dukungan untuk melaksanakan doa bersama yang juga diikuti Gubernur Banten.

Menurut Kapt. Fadli, dukungan tersebut menjadi energi tersendiri bagi operasi pencarian. Apalagi para jurnalis yang hilang diketahui sempat berpamitan kepada Gubernur Banten sebelum menjalankan tugas.

“Beliau memberikan dukungan luar biasa sampai ikut operasi pencarian,” kata Fadli.

Di tengah pencarian yang penuh ketidakpastian, doa menjadi cara manusia menitipkan harapan ketika kemampuan teknis memiliki batas.

Setiap kemungkinan tetap diperhitungkan. Kapten Fadli masih mengingat satu momen ketika kapal berada di antara Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau. Kapal saat itu bergerak sekitar tujuh knot.

Suasana berubah. Ada perintah yang tak tahu datang dari mana, untuk segera menjauh. “Merinding dan ada perintah cepat pergi. Langsung saya gas,” ujarnya.

Bagi seorang kapten kapal SAR, keputusan seperti itu bukan sekadar soal keberanian. Ada keselamatan puluhan orang yang harus dipertaruhkan dalam hitungan detik.

Di hari kedelapan ini, area pencarian kembali diperluas. Tim SAR gabungan menyisir wilayah dari Tanjung Belimbing hingga Pulau Sebesi dengan luas search area mencapai sekitar 872 nautical mile (NM).

Koordinator Tim Potensi SAR dari Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR), Khoirul Mustofa, mengatakan keikutsertaan relawan merupakan bentuk ikhtiar maksimal sekaligus penghormatan kepada para wartawan yang selama ini menjalankan tugas untuk masyarakat.

“Ikhtiar maksimal kita ikut bersama Tim SAR gabungan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap dedikasi para wartawan dalam melaksanakan tugas kemanusiaan menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat,” ujarnya.

Harapannya juga sama. “Semoga ada titik terang hari ini, saudara kita bisa ditemukan dalam kondisi selamat.”

Anggota Yonif 143, Serda Arafat, menyampaikan keyakinan serupa. “Hari ke-8 ini kita tetap upaya maksimal. Targetnya hari ini pencarian ada titik terang.

Belum ada jawaban. Belum ada kabar tentang lima wartawan, kapten kapal, ABK, dan seorang guide yang kami cari. Tetapi kapal telah membawa pulang sesuatu yang lain, keteguhan untuk kembali berangkat.

Sebab bagi Tim SAR, pencarian bukan tentang seberapa cepat hasil ditemukan. Ada kalanya laut meminta waktu. Ada kalanya medan memaksa mereka berhitung lebih hati-hati.

Ada kalanya gelombang membuat tubuh lelah dan gunung mengingatkan bahwa keselamatan juga harus dijaga. Namun selama masih ada kemungkinan, ikhtiar belum boleh berhenti.

Kapt. Fadli berharap kejelasan tentang kondisi para korban dapat segera diketahui.

Ia mengakui, bagi korban bertahan selama tujuh atau delapan hari dalam kondisi seperti itu merupakan hal yang sangat berat. Namun pengalaman menunjukkan ada kasus ketika korban mampu bertahan jauh lebih lama.

Karena itu, harapan tetap dipelihara. “Sesegera mungkin kita temukan dan evakuasi selamat teman-teman jurnalis kita ini,” katanya.

Laut kembali gelap, namun kami belum juga mendapatkan petunjuk. KN SAR Basudewa akhirnya bersandar di Pelabuhan Pulau Sebesi Lampung Selatan. Namun bagi kami, pencarian belum berakhir.

Esok, kami akan kembali memeriksa peralatan, melihat peta, menentukan sektor dan kembali menghadapi laut. Bukan karena kami tahu di mana para korban berada. Melainkan karena kami belum tahu.

Dan selama jawaban itu belum ditemukan, harapan masih layak diperjuangkan. Optimisme masih tetap tertanam, kembali pulang membawa delapan korban dengan selamat bertemu keluarga di kampung halaman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *