NATAR | LAMPUNGKU.COM – Aroma takjil mulai tercium dari sudut halaman Masjid An-Nubuwwah, bercampur dengan desir angin yang membawa rasa harap saat senja merayap pelan di langit kampung Muhajirun. Para santri duduk bersila, sebagian memegang mushaf, sebagian lagi menunduk khusyuk mendengarkan.
Di hadapan jama’ah Masjid An-Nubuwwah, suara Wakil Ketua Dewan Pengurus Rabithah Du’at Bilad Al Syam (Asosiasi para Da’i Syam) terdengar tenang namun tegas. Syeikh Ayyub Mousa tidak berteriak. Ia tidak menggugah dengan retorika amarah. Ia justru berbicara tentang taubat, tentang ilmu, tentang ibadah, dan tentang kasih sayang.
“Kunci kemenangan melawan Yahudi,” ujarnya perlahan, “dimulai dari diri kita sendiri.”
Kalimat itu menggantung di udara. Tidak ada sorak. Tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan yang terasa lebih dalam dari biasanya.
Bagi banyak orang, isu Palestina sering dipahami sebagai konflik geopolitik, perebutan wilayah, atau pertarungan militer yang rumit. Namun sore itu, perspektif yang dihadirkan berbeda. Syeikh Ayyub tidak memulai dari strategi perang, tetapi dari taubat.
“Bertaubat atas dosa besar dan dosa kecil,” kata Syeikh yang juga Imam, khatib dan pengajar di Dar Al-Fatwa Lebanon ini.
Taubat bukan sekadar ritual lisan. Ia adalah revolusi batin. Dalam sejarah Islam, kemenangan-kemenangan besar selalu diawali dengan pembersihan hati. Ketika umat memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah memperbaiki keadaan mereka.
Masjid Al-Aqsa, bukan sekadar bangunan batu tua. Ia adalah simbol kemuliaan spiritual umat Islam. Ia pernah menjadi kiblat pertama, menjadi saksi peristiwa Isra Mi’raj. Maka, pembebasannya, menurut Syeikh Ayyub, tidak mungkin hanya dimulai dengan strategi politik. Ia harus dimulai dengan istighfar.
Teringat dosa-dosa yang dianggap kecil: lalai shalat berjamaah, menunda tilawah, atau lalai menjaga lisan. Sore itu, Palestina terasa dekat, bukan hanya di peta, tetapi di dada.
Poin kedua yang disampaikan adalah ilmu. “Yahudi paling tidak suka jika umat Islam berilmu,” tutur Syeikh yang juga pemerhati dan pegiat isu-isu hak rakyat Palestina ini.
Pernyataan ini bukan untuk menanamkan kebencian, melainkan untuk menegaskan bahwa kebodohan adalah kelemahan paling berbahaya. Dalam banyak masa penjajahan, umat yang tertinggal dalam ilmu akan mudah ditundukkan. Sebaliknya, umat yang berilmu sulit diperdaya.
Ilmu yang dimaksud bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu dunia: sains, teknologi, ekonomi, media, dan strategi. Ilmu membangun kemandirian. Ilmu melahirkan keberanian. Ilmu menjadikan umat tidak mudah diadu domba.
Matapun tertuju pada seorang santri bernama Muhammad Daud Al-Hasby yang sedang mencatat dengan serius apa yang Syeikh Ayyub sampaikan. Barangkali ia bermimpi menjadi jurnalis, dokter, atau insinyur. Barangkali ia belum pernah ke Palestina. Namun sore itu, ia mengerti bahwa belajar dengan sungguh-sungguh pun adalah bagian dari perjuangan membebaskan Masjid Al-Aqsha.
Dalam suasana menjelang berbuka yang diselenggarakan bersama Aqsa Working Group, ilmu menjadi tema yang terasa relevan. Organisasi ini selama bertahun-tahun konsern mengedukasi masyarakat Indonesia tentang pentingnya kepedulian terhadap Al-Aqsha.
Pendidikan adalah bentuk perlawanan yang sunyi namun berjangka panjang. Itulah yang diupayakan oleh AWG dengan menerapkan kurikulum Baitul Maqdis di jaringan Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah seluruh Indonesia dan beberapa sekolah yang sudah terjalin kerjasama.
Poin ketiga adalah ibadah. “Beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ucapnya singkat.
Di tengah dunia yang memuja kekuatan militer dan aliansi politik, ibadah mungkin terdengar sederhana. Namun dalam tradisi Islam, ibadah adalah sumber kekuatan yang tidak terlihat.
Shalat malam yang sunyi, doa yang lirih, puasa yang penuh kesabaran, semua itu membentuk ketahanan jiwa. Umat yang terbiasa bersujud akan sulit dipatahkan. Umat yang yakin kepada pertolongan Allah tidak mudah putus asa.
Syeikh Ayyub berbicara dengan pengalaman seorang yang datang dari tanah yang setiap harinya bergolak. Dari negeri yang anak-anaknya tumbuh dalam bayang-bayang konflik. Namun ia tidak menyebarkan keputusasaan. Ia justru menegaskan bahwa harapan selalu lahir dari hubungan yang kuat dengan Allah.
Langit semakin temaram. Adzan Maghrib tinggal menunggu waktu. Para santri menundukkan kepala. Mungkin mereka membayangkan saudara-saudara mereka di Gaza atau Yerusalem yang berbuka dalam situasi jauh lebih sulit. Ibadah sore itu terasa lebih dalam dari biasanya.
Poin terakhir yang disampaikan adalah berkasih sayang sesama umat Islam.
Ini mungkin terdengar sederhana, namun justru paling sulit. Perpecahan adalah celah terbesar yang melemahkan umat. Saling mencurigai, saling menjatuhkan, saling menyesatkan, semua itu menggerogoti kekuatan dari dalam.
Syeikh Ayyub menegaskan bahwa pembebasan Al-Aqsha membutuhkan persatuan hati. Kasih sayang bukan hanya slogan, tetapi praktik nyata: saling membantu, saling mendoakan, saling menahan diri dari fitnah dan permusuhan.
Di tengah masyarakat yang beragam latar belakangnya, pesan ini terasa sangat relevan. Di Masjid terbesar di Lampung ini, santri dan masyarakat duduk bersama tanpa sekat. Mereka berbuka dari alas makanan yang sama. Mereka mendengarkan nasihat yang sama. Momen itu sederhana, tetapi sarat makna.
Ketika adzan Maghrib akhirnya berkumandang, suara itu memecah keheningan dengan kelembutan. Kurma dan gorengan serta kue-kue sudah disiapin hidangkan. Air putih dan es cendol diteguk. Doa-doa dilangitkan.
Sore itu, pembebasan Masjid Al-Aqsha tidak dibicarakan dalam peta strategi militer atau lobi diplomatik tingkat tinggi. Ia dibicarakan dalam bahasa taubat, ilmu, ibadah, dan kasih sayang.
Pesan Syeikh Ayyub Mousa mengingatkan bahwa perjuangan fisik tanpa fondasi spiritual akan rapuh. Namun spiritualitas tanpa aksi nyata juga tidak cukup. Keduanya harus berjalan beriringan.
Masjid Al-Aqsha mungkin berjarak ribuan kilometer dari Lampung. Palestina mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari para santri. Namun nilai-nilai yang ditegaskan sore itu — taubat, ilmu, ibadah, dan kasih sayang, bisa dipraktikkan di mana pun.
Pembebasan sejati, tampaknya, dimulai dari jiwa yang merdeka dari dosa, dari pikiran yang tercerahkan oleh ilmu, dari hati yang terikat kuat kepada Allah, dan dari umat yang saling mencintai.
Dan ketika nilai-nilai itu tumbuh, bukan mustahil suatu hari nanti, Masjid Al-Aqsha benar-benar menyaksikan fajar kebebasan yang lama dinantikan. Sebab pembebasan Masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina bukan hanya tentang perlawanan, namun juga Pemurnian jiwa.





