LAMPUNG SELATAN | LAMPUNGKU.COM – Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Natar Lampung Selatan menggelar Tasyakur Kelulusan Santri MA. Sebanyak 93 santri dinyatakan lulus Kelas 6 Madrasah Aliyah (MA) Angkatan ke-32 pada Tasyakur yang digelar di Masjid An Nubuwwah, Ahad (19/4/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Mewujudkan Kegemilangan dengan Generasi yang Kokoh Keimanan, Tajam Pemikiran, dan Mulia Perbuatan” ini menjadi momentum penuh makna sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya masa pendidikan para santri.
Sebanyak 93 santri yang dinyatakan lulus terdiri dari 49 santri Muslimin dan 44 santri Muslimat, dengan capaian membanggakan yakni 7 santri diantaranya berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Sementara yang lainnya berhasil memiliki hafalan mulai dari 5, 10, 15, 20, hingga 25 Juz.
Para lulusan ini berasal dari berbagai daerah di Provinsi Lampung hingga luar daerah, mencerminkan luasnya jangkauan pendidikan pondok pesantren yang sudah melahirkan alumni sejak tahun 1995 ini.
Acara turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah AK Al-Sattari, Gubernur Lampung yang diwakili Kadis Kominfo dan Statistik, Ganjar Jationo, M.AP, Pembina jaringan Ponpes Al-Fatah Indonesia Imaam Yakhsyallah Mansur, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Lampung Selatan, Camat Natar, Kepala KUA Natar, Kepala Desa Negararatu serta wali santri.
Dalam sambutannya, Imaam Yakhsyallah Mansur memberikan pesan mendalam kepada para santri agar menjadi generasi berilmu yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan secara luas.
Ia menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, orang berilmu disebut dengan beberapa istilah, seperti ulama, ahlu zikri, ulil abshar, hingga puncaknya ulul albab.
Menurutnya, konsep ulul albab mencerminkan integrasi antara keimanan dan kecerdasan intelektual. Ia mencontohkan bahwa dalam kehidupan nyata, ilmu agama tidak dapat dipisahkan dari ilmu umum.
“Tidak mungkin seorang gubernur bisa menyelesaikan permasalahan hukum waris tanpa memahami matematika. Begitu juga menentukan arah kiblat membutuhkan ilmu geografi. Inilah yang disebut ulul albab,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sejak berdirinya pesantren pada tahun 1993, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Keduanya dipadukan sebagai satu kesatuan dalam membentuk karakter santri.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa keberhasilan menjadi ulul albab bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga mampu membawa kebahagiaan bagi keluarga, bahkan hingga ke akhirat.
“Puncak keberhasilan kalian adalah ketika bisa membawa orang tua ke surga. Tidak hanya membahagiakan di dunia, tetapi juga di akhirat,” ungkapnya.
Kehadiran Duta Besar Palestina dalam kegiatan ini turut memberikan semangat solidaritas internasional serta mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap perjuangan umat Islam di berbagai belahan dunia.
Sementara Gubernur Lampung yang diwakili Kadis Kominfo dan Statistik, Ganjar Jationo, M.AP juga mengapresiasi peran Ponpes Al-Fatah dalam membentuk karakter bangsa dengan pendidikan karakter Al-Qur’an bersama pentingnya menguasai pengetahuan dan teknologi.
Rangkaian acara berlangsung khidmat dan penuh haru, mulai dari prosesi serah terima santri kepada orang tua, penampilan kreasi santri, penyematan mahkota dari santri Hafidz 30 juz kepada orangtua, hingga doa bersama untuk masa depan para lulusan.
Madrasah Al-Fatah sendiri telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah di berbagai bidang, mulai dari akademisi hingga meraih gelar doktor dan mengajar di berbagai perguruan tinggi, tenaga medis seperti dokter dan perawat, Perwira Kepolisian, TNI, relawan kemanusiaan dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, hingga profesional di bidang jurnalistik, fotografi, dan videografi.
Tak hanya itu, prestasi juga ditorehkan di bidang olahraga, di antaranya cabang karate dan Tapak Suci, bahkan hingga tingkat dunia dengan capaian juara dua dunia.,





