Ketua STISA Abdullah bin Mas’ud Hadiri KAICIE 2026, Dorong Integrasi Nilai Qur’ani di Era Digital

YOGYAKARTA | LAMPUNGKU.COM — Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an (STISA) Abdullah bin Mas’ud Lampung Dr. L. Sholehuddin, M.Pd., menghadiri undangan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam kegiatan Kalijaga International Conference on Islamic Education (KAICIE) 2026 yang digelar di Hotel Grand
Rohan Yogyakarta, Selasa–Rabu, 6–7 Oktober 2026.

Konferensi internasional tersebut mempertemukan para akademisi dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk berbagi gagasan, hasil penelitian, serta perspektif terkait perkembangan pendidikan Islam di tengah perubahan zaman.

Bacaan Lainnya

Pada hari pertama pelaksanaan KAICIE 2026, Selasa (6/10/2026) Dr. L. Sholehuddin berkesempatan mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Integrasi Pendidikan Nilai Qur’ani melalui Media Digital: Peluang dan Tantangan, Strategi Penanaman Karakter Islami dan Pembentukan Moralitas Generasi Muda di Era Transformasi Teknologi.”

Dalam pemaparannya, Dr. L. Sholehuddin menjelaskan bahwa penelitian tersebut bertujuan mengkaji peluang pemanfaatan media digital dalam pembelajaran nilai-nilai Qur’ani, memetakan berbagai tantangan etis, teknis, dan kultural, sekaligus merumuskan strategi integrasi pendidikan Al-Qur’an dengan literasi digital Islami yang tetap berlandaskan adab.

“Media digital memberikan peluang besar untuk pembelajaran Al-Qur’an. Dengan teknologi, kita bisa murojaah dan tadabbur kapan saja, belajar dengan media yang lebih interaktif, serta memperluas diskusi dan komunitas keagamaan melalui platform online.”

Namun, menurutnya, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan yang tidak dapat diabaikan. Kemudahan mengakses konten keagamaan secara instan berpotensi melahirkan pemahaman yang dangkal. Di sisi lain, belum semua pendidik memiliki kompetensi digital yang memadai, sementara penggunaan gawai secara berlebihan dapat menjadi distraksi dalam proses belajar maupun aktivitas ibadah.

Karena itu, ia menekankan bahwa solusi yang diperlukan bukanlah menjauhkan generasi muda dari teknologi, melainkan membangun budaya digital yang berlandaskan nilai-nilai Qur’ani.

“Solusinya bukan menjauhi teknologi, tetapi menggunakannya dengan nilai-nilai Qur’ani. Kita perlu membiasakan tabayyun, memberikan teladan dalam bermedia digital, dan mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen konten Islami yang positif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dr. L. Sholehuddin menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan Islam di era digital membutuhkan sinergi antara pendidik, lembaga pendidikan, dan keluarga. Pendidik dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi literasi digital yang berpijak pada etika Islam.

Lembaga pendidikan perlu mengintegrasikan sains, teknologi, dan nilai-nilai Al-Qur’an dalam proses pembelajaran. Sementara itu, orang tua memiliki peran penting sebagai pendamping aktif dalam aktivitas digital anak.

“Teknologi terus berkembang, tetapi nilai tidak boleh hilang. Di era digital, pendidikan Qur’ani hadir bukan untuk menolak perubahan, melainkan membimbing generasi agar mampu menggunakannya dengan ilmu, adab, dan akhlak,” ujarnya.

Keikutsertaan Ketua STISA Abdullah bin Mas’ud dalam KAICIE 2026 menjadi bagian dari kontribusi STISA dalam ruang akademik dan pendidikan Islam, sekaligus memperkuat komitmen kampus untuk terus mengembangkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan adab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *