LAMPUNG SELATAN | LAMPUNGKU.COM – Di bawah rindangnya pepohonan, suara air yang jatuh dari tebing Objek Wisata Curup Pancuran Emas Purwosari Negararatu Natar Lampung Selatan berpadu dengan denting musik dan percakapan hangat ratusan orang yang memadati lokasi itu, Ahad (3/5/2026).
Ratusan skuter klasik memenuhi pelataran. Sebagian pemiliknya duduk berkelompok, menyeruput kopi sambil berbincang, sementara di sisi lain panitia terlihat menyiapkan rangkaian kegiatan. Suasana bergerak dinamis, namun tetap terasa akrab.
Hari itu, Komunitas Scooter Lampung Selatan Independent (Solusi) menggelar halal bihalal yang dirangkai dengan santunan kepada warga sekitar, doa bersama, serta hiburan musik.
Di tengah keramaian, kepada Lamungku.com, Ketua Penyelenggara Restu Madila Puspito menyampaikan pesan yang menjadi pengingat bagi para anggota komunitas.
“Tali kopling boleh putus, asal jangan tali silaturahim,” ujarnya.
Ungkapan tersebut ia gunakan untuk menggambarkan pentingnya menjaga hubungan antaranggota komunitas, terlepas dari dinamika yang terjadi dalam aktivitas berkendara maupun organisasi.
lebih lanjut menurut Restu, kegiatan halal bihalal ini tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga sarana memperkenalkan potensi wisata desa serta melibatkan masyarakat sekitar.
“Kegiatan ini juga kami isi dengan santunan dan melibatkan pelaku UMKM di sekitar lokasi,” katanya.
Di area yang sama, sejumlah warga terlihat menerima santunan yang disalurkan panitia. Anak-anak dan ibu-ibu duduk berjejer, sementara panitia secara bergantian membagikan bantuan.
Kalimat “Tali kopling boleh putus, asal jangan tali silaturahim” juga ikut diulas oleh Babinsa setempat, Serka Ayatullah Khomeini, dalam sambutannya pada pembukaan sekaligus santunan bagi warga sekitar.
Dengan gaya santai namun tegas, ia mengingatkan pentingnya menjaga nilai kebersamaan di tengah komunitas yang terus berkembang. “Dengan adanya komunitas seperti ini, kita harapkan muncul banyak kebaikan. Bisa mendukung UMKM, menghidupkan wisata desa, dan membantu masyarakat sekitar,” katanya.
Namun, ia juga memberi penekanan, jangan sampai semangat kebersamaan dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Pesan itu terasa relevan. Di beberapa tempat, komunitas motor Vespa kerap mendapat stigma negatif. Tapi di Curup Pancuran Emas Negararatu hari itu, Komunitas Solusi berkeinginan mematahkan citra tersebut perlahan.
Sementara itu, pengelola lokasi wisata, Odih Said, terlihat mendampingi sejumlah pengunjung yang datang. Dalam sambutannya, Odih menyebut kegiatan komunitas Solusi turut berpengaruh terhadap meningkatnya aktivitas di lokasi wisata.
“Kami juga mengajak pelaku UMKM untuk ikut serta membuka lapak di sini,” katanya.
Sementara bagi Susilo Hardiansyah, warga Negararatu yang sehari-hari tinggal tak jauh dari lokasi Objek Wisata Curup Pancuran Emas, terselenggaranya kegiatan yang digagas Komunitas Skuter Solusi membawa rasa gembira tersendiri.
Baginya, kegiatan semacam ini bukan sekadar acara biasa, melainkan angin segar yang berpotensi membangkitkan kembali denyut perekonomian warga sekaligus mengangkat nama tempat wisata yang menjadi kebanggaan desanya itu.
Lebih dari itu, ia menyimpan rasa kagum yang mendalam melihat sosok di balik penyelenggaraan kegiatan tersebut—sebagian besar digerakkan oleh anak muda. Selama ini, kerap kali kelompok anak muda yang gemar berkendara dinilai sebelah mata dan dianggap tak mampu berbuat hal yang berarti. Namun, menurut Susilo, kenyataan yang ada justru membuktikan sebaliknya.
“Komunitas Skuter ini membuktikan kepada kita semua bahwa mereka yang hobi berkendara pun punya kemampuan untuk memulai dan mewujudkan kegiatan yang membawa manfaat serta nilai positif bagi lingkungan sekitar,” ungkapnya dengan nada penuh haru dan bangga.
Sejumlah stan UMKM terlihat berjejer di sisi area kegiatan. Pengunjung dan peserta komunitas tampak singgah, membeli makanan dan minuman, serta berbincang dengan para pedagang.
Komunitas Solusi sendiri telah berdiri sejak 2017 dan secara rutin mengadakan kegiatan yang melibatkan anggota dari berbagai daerah. Pada kegiatan ini, puluhan komunitas Vespa dari luar Lampung turut berkontribusi mensuport pendanaan kegiatan meski tidak bisa hadir langsung ke lokasi.
Beberapa di antaranya merupakan komunitas yang berasal dari Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Jakarta hingga Halmahera. Nama-nama komunitas seperti Nasi (Natar Scooter Independent), Formasi Lampung, Extreme Indonesia Riau Chapter, Brisix Baturaja, hingga Canga Scooter Club Halmahera Utara tercatat berkontribusi dalam kegiatan tersebut.
Menjelang sore, musik live mulai dimainkan. Sejumlah peserta mendekat ke area panggung, sebagian ikut bernyanyi, sementara lainnya tetap duduk menikmati suasana. Di sela kegiatan, pengunjung juga terlihat berkeliling menikmati kawasan air terjun dan mengunjungi belasan stan UMKM.
Di titik itulah, makna dari ungkapan “Tali Kopling Boleh Putus, Asal Jangan Tali Silaturahim” terasa nyata. Komunitas Solusi menekankan, mesin boleh saja berhenti, perjalanan bisa saja tertunda, tetapi hubungan antar manusia harus terus berjalan.




