Jejak Pengabdian Yuliana Dethan, Doktor Pertama Alumni STISA ABM Online

BANDAR LAMPUNG | LAMPUNGKU.COM – Di ruang sidang doktor Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Kamis (30/7/2026), suasana berlangsung khidmat. Sejumlah guru besar duduk di hadapan seorang perempuan yang tengah mempresentasikan hasil penelitian disertasinya. Sesekali ia menarik napas panjang. Suaranya sempat terhenti ketika rasa haru menyelimuti dirinya.

Sekitar sepuluh menit, ia berusaha menenangkan diri. Tatapannya sesekali mengarah ke para asatidz dan ikhwan yang hadir memberikan dukungan. Tiga tahun perjuangan menuntut ilmu seakan berputar kembali dalam ingatannya. Setelah emosinya mereda, ia melanjutkan presentasi hingga sesi tanya jawab usai.

Bacaan Lainnya

Tak lama kemudian, ketua sidang mengetukkan palu kelulusan. Perempuan itu, Yuliana Dethan, resmi menyandang gelar Doktor Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung dengan predikat cumlaude (pujian).

Pencapaian tersebut bukan hanya menjadi kebahagiaan bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga menorehkan sejarah baru bagi Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISA ABM) Online. Yuliana menjadi alumnus pertama STISA ABM Online yang berhasil meraih gelar doktor.

Namun, perjalanan menuju titik itu dimulai jauh sebelum ia memasuki ruang sidang.

Pada 2023, setelah menyelesaikan Program Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UIN Raden Intan Lampung, Yuliana dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan studi doktoral. Sebelum mengambil keputusan, ia mengaku mengalami sebuah mimpi yang hingga kini masih diingatnya.

Dalam mimpi itu ia bertemu Allahuyarham Imaam Muhyiddin Hamidy, sebelumnya sebagai pembina jaringan Ponpes Al-Fatah Se-Indonesia yang saat ini telah memiliki dua perguruan tinggi di Bogor dan Lampung. Saat itu ia merasa ingin pulang. Namun, sang imam justru menunjukkan tiga jalan dan memintanya memilih salah satu. Ketika masih ragu, beliau berkata, “Pilih saja yang tengah.”

Beberapa waktu kemudian, ketika melihat pilihan program doktor di UIN Raden Intan Lampung, ia mendapati tiga program studi yang berjajar, yakni Manajemen Pendidikan Islam, Pengembangan Masyarakat Islam, dan Hukum. Program Pengembangan Masyarakat Islam berada tepat di posisi tengah.

Mimpi itu menjadi penguat batin. Ditambah masukan dan saran dari sang suami, Ustadz Amin Najib yang menilai bidang Pengembangan Masyarakat Islam sangat relevan untuk memperkuat dakwah melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, Yuliana akhirnya mantap melanjutkan pendidikan doktoral.

Baginya, kuliah doktor bukan semata mengejar gelar. Ia ingin ilmu yang diperoleh kelak menjadi bagian dari penguatan STISA ABM. Kehadiran dosen bergelar doktor merupakan salah satu unsur penting dalam peningkatan mutu perguruan tinggi. Karena itu, ia ingin ikut berkontribusi melalui jalur akademik.

Selama tiga tahun kuliah, kesederhanaan menjadi bagian dari kehidupannya.

Setiap kali jadwal kuliah tiba, sang suami bersama motor Honda Revo kesayangan setia mengantarnya ke kampus. Ketika hujan turun, mereka menunggu reda. Tidak jarang pula tetap menerobos hujan demi mengikuti perkuliahan.

Ada kisah sederhana yang hingga kini masih dikenangnya.

Saat jam istirahat, teman-teman kuliahnya biasa makan di kafe kampus. Sementara Yuliana memilih membawa bekal nasi dari rumah agar pengeluaran tetap hemat. Ia mengaku sempat merasa canggung karena menjadi satu-satunya yang membawa bekal. Namun, semua itu dijalaninya dengan lapang hati.

Suatu hari, salah seorang rekannya mencoba meminta potongan harga kepada pegawai kafe.

“Pak, kami kan mahasiswa, bisa minta diskon jadi Rp20 ribu?”

Permintaan itu ditolak. Mereka pun tertawa bersama karena merasa wajah mereka sudah jauh dari kesan mahasiswa. Kenangan sederhana itu menjadi penghibur di tengah padatnya aktivitas akademik.

Ujian sesungguhnya hadir ketika memasuki penyusunan disertasi. Judul penelitiannya berubah hingga empat kali mengikuti arahan pembimbing utama, Prof. Dr. Ruslan Abdul Ghofur, M.S.I. Kesibukan sang profesor membuat jadwal bimbingan sering kali harus menunggu dua minggu, sebulan, bahkan lebih. Setelah bimbingan selesai, naskah kembali direvisi dan menunggu giliran diperiksa lagi.

Disertasi yang mengantarkannya meraih gelar doktor mengangkat tema “Peran Pondok Pesantren dalam Pemberdayaan dan Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat Islam di Lampung.”

Melalui penelitian tersebut, Yuliana mengkaji bagaimana pondok pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga berperan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.

Penelitiannya menunjukkan bahwa pesantren memiliki kontribusi strategis dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat, memperkuat kehidupan sosial, mengembangkan usaha mikro dan ekonomi berbasis komunitas, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial.

Hasil penelitian itu diharapkan dapat menjadi salah satu model pengembangan pesantren sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Islam di Lampung.

Tantangan berikutnya muncul saat mengumpulkan data penelitian di Pondok Pesantren Diniyah Putri Pesawaran Lampung. Setelah izin penelitian selesai, penguji ternyata masih meminta tambahan data. Ia sempat kebingungan karena surat penelitian telah berakhir dan permohonan tambahan belum memperoleh jawaban.

Tidak ingin menyerah, Yuliana akhirnya datang langsung ke pesantren. Di sanalah ia bertemu dengan pimpinan Pondok Pesantren Diniyah Putri, Hajah Nurma, S.Pd., yang menyambutnya dengan hangat dan memberikan kesempatan melengkapi data penelitian. Melalui bantuan Ustadz Miftah Arifin, S.Kom., berbagai data yang dibutuhkan berhasil diperoleh.

Bahkan setelah sidang tertutup, penguji masih meminta data tambahan dari masyarakat sekitar pesantren. Waktu semakin sempit karena masa studi tiga tahunnya hampir berakhir. Jika melewati batas waktu, ia harus kembali membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Sekali lagi ia turun ke lapangan. Ia mewawancarai para pelaku UMKM di sekitar pesantren, termasuk pemilik toko yang menjadi pemasok kebutuhan pesantren. Dari sanalah data pelengkap akhirnya berhasil diperoleh.

Hari-hari menjelang sidang terbuka menjadi masa yang paling padat. Di sela aktivitas mengajar di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah Al-Fatah Natar dan menjadi dosen STISA ABM Online, ia harus menyelesaikan revisi, mencetak disertasi, menyusun ringkasan penelitian, hingga melengkapi seluruh administrasi.

Baru pada 20 Juli 2026 seluruh berkas dapat diajukan setelah memperoleh persetujuan pembimbing utama. Dua hari menjelang sidang, seluruh persiapan akhirnya selesai.

Bagi Yuliana, semua itu tidak mungkin dilalui tanpa pertolongan Allah SWT, doa para guru, dukungan keluarga, dan semangat dari jamaah.

Perjalanan hidupnya sendiri merupakan kisah panjang tentang pengabdian. Pada 1994, ia berhijrah ke Lampung untuk memenuhi amanah Pembina Utama Ponpes Al-Fatah dalam menguatkan dakwah pada masa awal berdirinya Al-Fatah.

Setahun kemudian, tepatnya Juni 1995, ia menikah dengan Ustadz Amin Najib. Saat itu mereka belum memiliki rumah dan sempat menumpang di rumah warga Muhajirun. Kini Allah SWT mengaruniakan lima orang anak yang menjadi penyemangat dalam setiap langkah perjuangan mereka.

Perjalanan akademiknya ditempuh secara bertahap. Setelah menyelesaikan pendidikan diniyah dan D3 Takhasus Diniyyah Al-Fatah, ia melanjutkan studi S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di STISA ABM Online hingga lulus pada 2020. Ia kemudian meraih gelar magister pada Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Raden Intan Lampung pada 2023, sebelum akhirnya menyelesaikan Program Doktor Pengembangan Masyarakat Islam pada 30 Juli 2026.

Ketua STISA ABM Online, Dr. Lili Solehuddin, MPd menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Yuliana menjadi kebanggaan bagi kampus yang usianya relatif masih muda.

“Atas nama Ketua STISA ABM Online, kami sangat bersyukur bahwa dalam perjalanannya yang relatif muda, STISA ABM Online telah melahirkan seorang alumnus yang berhasil meraih gelar doktor dengan predikat pujian. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang patut disyukuri.

Semoga ilmu yang telah dimiliki dapat memberikan manfaat, maslahat, dan barokah bagi perjuangan al-Jamaah, Islam, dan umat manusia. Semoga pula menjadi inspirasi, motivasi, dan magnet bagi para alumnus STISA serta Fatayat lainnya dalam mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Kami juga berharap semangat belajar ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut hingga meraih gelar profesor. Kehadiran para akademisi yang mumpuni akan menjadi kekuatan penting dalam memperkuat STISA ABM, sekaligus memperkokoh jamaah Muslimin (Hizbullah) pada umumnya. Aamiin.”

Bagi Yuliana, gelar doktor bukanlah garis akhir. Ia memandangnya sebagai amanah baru untuk terus mengembangkan dakwah melalui pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.

Perjalanannya menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan dalam menuntut ilmu akan selalu menemukan jalannya.

Dari ruang sidang doktor itu, lahirlah sebuah sejarah baru, doktor pertama alumni STISA Abdullah bin Mas’ud Online, sekaligus sebuah harapan agar semakin banyak kader umat yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada Allah SWT, agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *