Oleh: Nurhadis, Jurnalis dan Aktivis Palestina,
Ada satu kegelisahan yang akhir-akhir ini terus saya rasakan sebagai jurnalis sekaligus aktivis kemanusiaan untuk Palestina. Isu Palestina perlahan mulai redup di tengah umat Islam sendiri. Tidak benar-benar hilang, tetapi gaungnya mulai melemah. Jujur, termasuk diri saya pribadi.
Linimasa media sosial dipenuhi isu baru. Diskusi tentang Gaza mulai jarang terdengar. Banyak orang mulai merasa lelah mengikuti kabar pembantaian yang seperti tidak pernah selesai. Padahal di saat perhatian dunia mulai menurun, penderitaan rakyat Palestina justru belum berhenti.
Anak-anak masih hidup di pengungsian. Rumah sakit masih lumpuh akibat serangan dan blokade. Warga sipil masih kehilangan keluarga mereka setiap hari. Masjid, sekolah, dan rumah-rumah masih terus dihancurkan. Palestina belum selesai. Luka itu masih nyata.
Sebagai jurnalis, saya memahami satu hal, tragedi yang terus berulang lama-lama bisa dianggap biasa. Foto korban tidak lagi mengguncang hati seperti dulu. Video tangisan anak Palestina berlalu begitu saja di layar ponsel. Dunia mengalami kelelahan empati. Dan itu berbahaya.
Yang lebih menyedihkan, sebagian umat Islam justru mulai mengambil jarak. Ada yang merasa suaranya tidak berarti. Ada yang menganggap Palestina terlalu jauh dari kehidupan mereka. Bahkan ada yang memilih diam karena merasa isu ini terlalu rumit.
Padahal Palestina bukan sekadar isu politik luar negeri. Palestina adalah persoalan kemanusiaan dan penjajahan yang nyata. Ini tentang hak hidup manusia yang dirampas secara sistematis selama puluhan tahun.
Bagi kita umat Islam Indonesia, membela Palestina bahkan bukan hanya soal solidaritas agama atau rasa iba semata. Membela Palestina adalah amanah konstitusi. Amanah yang secara tegas tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Kalimat itu bukan sekadar tulisan pembuka dalam konstitusi negara. Itu adalah ruh perjuangan bangsa Indonesia. Negeri ini lahir dari pengalaman panjang dijajah. Karena itu Indonesia sejak awal berdiri menempatkan diri untuk menentang segala bentuk kolonialisme di muka bumi.
Artinya, ketika rakyat Indonesia membela Palestina, sesungguhnya kita sedang mengamalkan nilai dasar konstitusi negara. Kita sedang menjalankan amanah sejarah bangsa. Sebab penjajahan tidak boleh diterima dalam bentuk apa pun, terhadap bangsa mana pun.
Palestina hari ini adalah simbol bahwa kolonialisme modern masih nyata. Tanah dirampas, warga sipil dibunuh, akses kebutuhan dasar dibatasi, dan hak hidup manusia diabaikan. Maka keberpihakan terhadap Palestina bukan tindakan ekstrem, melainkan sikap moral dan konstitusional.
Ironisnya, ketika sebagian umat Islam mulai lelah bersuara, banyak masyarakat non-Muslim di berbagai negara justru masih terus turun ke jalan. Mahasiswa di kampus-kampus Barat tetap melakukan aksi solidaritas. Aktivis hak asasi manusia terus menggalang dukungan. Tokoh lintas agama masih lantang menyuarakan penghentian genosida.
Mereka mungkin tidak memiliki ikatan akidah dengan Palestina, tetapi mereka masih memiliki keberanian moral untuk menolak penjajahan.
Lalu bagaimana mungkin kita yang memiliki ikatan iman, sejarah perjuangan, dan amanah konstitusi justru memilih diam?
Kita memang tidak diminta mengangkat senjata. Tetapi jangan sampai berhenti peduli. Sebab diamnya orang-orang baik sering kali menjadi alasan mengapa kezaliman terus berlangsung.
Meskipun begitu, tidak menampik fakta masih ada sebagian anak bangsa yang terus peduli menyuarakan kebenaran ini. Kita tahu, 9 WNI yang Diculik, ditahan dan dipukuli tentara laknat zionis Israel di Perairan internasional baru saja kembali ke tanah air setelah menunaikan amanah konstitusi menolak tiap upaya penjajahan.
Ada juga Aksi setiap Jum’at yang digelar oleh lembaga kemanusiaan Aqsa Working Group (AWG) di depan Kedutaan Besar Amerika yang sampai pekan ini telah memasuki aksi yang ke ke-47. Lalu bagaimana dengan kita, apa yang kita upayakan agar Palestina tidak redup?
Hari ini membela Palestina bisa dilakukan dengan banyak cara. Menyebarkan informasi yang benar adalah perjuangan. Mengedukasi masyarakat tentang fakta Palestina adalah perjuangan. Menulis, berdonasi, membuat konten, menghadiri aksi solidaritas, menggelar kajian hingga menjaga agar isu Palestina tetap hidup dalam ruang publik juga bagian dari perjuangan.
Sebagai jurnalis, saya percaya informasi adalah medan perlawanan. Salah satu tujuan terbesar penjajahan adalah membuat dunia lupa. Ketika dunia lupa, maka kejahatan menjadi lebih mudah dilakukan tanpa tekanan moral. Karena itu, menjaga agar Palestina tetap dibicarakan adalah bentuk keberpihakan yang penting.
Kita juga harus waspada terhadap narasi yang sengaja dibangun untuk membuat masyarakat apatis. Konflik Palestina sering digiring seolah sekadar perang biasa yang rumit dipahami. Padahal hakikatnya sederhana, ada rakyat sipil yang dijajah dan dirampas hak hidupnya.
Umat Islam Indonesia jangan kehilangan sensitivitas terhadap isu ini. Jangan sampai derasnya hiburan dan isu viral membuat kita lupa pada amanah kemanusiaan dan amanah konstitusi bangsa sendiri.
Palestina membutuhkan solidaritas yang panjang dan konsisten. Sebab perjuangan sejati tidak berhenti ketika isu tidak lagi ramai diperbincangkan. Justru di saat perhatian dunia mulai surut, dukungan moral menjadi semakin penting.
Sejarah akan mencatat siapa yang berdiri bersama korban penindasan dan siapa yang memilih diam demi kenyamanan.
Pada akhirnya, Palestina bukan hanya tentang sebuah wilayah yang jauh di peta dunia, melainkan tentang sejauh mana hati kita masih hidup untuk membela keadilan. Jika hari ini kita mulai diam saat anak-anak dibunuh, rumah-rumah dihancurkan, dan penjajahan terus dipertontonkan di depan mata dunia, maka sesungguhnya yang sedang redup bukan hanya isu Palestina, tetapi juga nurani kemanusiaan kita sendiri.
Karena itu jangan lelah bersuara, jangan berhenti peduli, sebab selama masih ada penjajahan di tanah Palestina, selama itu pula setiap manusia merdeka memiliki tanggung jawab moral untuk tetap berdiri di barisan pembela kemanusiaan.





