PRINGSEWU | LAMPUNGKU.COM – Di tengah hiruk-pikuk kesibukan generasi muda menuntut ilmu, sebuah pemandangan unik dan mengharukan hadir di Pringsewu. Pesantren Lansia Al Ishlah di bawah asuhan Ustadz Latief Al Imami menjadi bukti bahwa belajar mengaji tidak mengenal batas usia.
Dengan santri yang rata-rata berusia di atas 60 tahun, bahkan ada yang mencapai 96 tahun, pesantren ini menjelma menjadi oase rohani bagi para kakek dan nenek yang haus akan ilmu agama.
Saat ini, Pesantren Lansia Al Ishlah telah memiliki dua lokasi kegiatan. Angkatan pertama bertempat di Masjid Al Ishlah, Jalan Semangka, Pekon Klaten Kecamatan Gadingrejo. Setiap Jumat pagi, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, sekitar 180 santri lansia dengan semangat luar biasa berkumpul.
Mereka didominasi oleh para sepuh yang paling muda berusia 60 tahun, dan yang paling mengesankan adalah seorang santri yang sudah menginjak usia 96 tahun, masih setia duduk bersila memegang Al-Qur’an.
Tak hanya di masjid, semangat belajar ini juga menyala di lokasi angkatan kedua yang berada di Kelurahan Fajaresuk, Kecamatan Pringsewu, tepatnya di rumah dr. Angel yang berada di komplek perkantoran kelurahan Fajaresuk.
Berbeda dengan angkatan pertama yang berbaur, angkatan kedua ini istimewa karena seluruh 50 santrinya adalah perempuan, semuanya berusia 60 tahun ke atas. Mereka rutin mengaji setiap hari Sabtu pukul 08.30 hingga 11.30 WIB, mengisi pekan dengan cahaya ilahi.
“Kegiatan di pesantren ini dirancang khusus untuk kebutuhan lansia. Bagi mereka yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an, pengajar menggunakan buku metode Tsaqifa, yaitu metode percepatan membaca Al-Qur’an yang ramah bagi pemula,” ujar Ustazd Latief Al Imami, Sabtu (18/4/2026).
Sementara itu, bagi santri yang sudah bisa membaca Al-Qur’an, mereka akan dikelompokkan lagi ke dalam kelas-kelas kecil berdasarkan tingkat kemampuan masing-masing, mulai dari tajwid hingga tahfidz sederhana. Disamping itu, ada kajian ilmu hingga belajar sholat.
Namun, pesantren ini tidak hanya fokus pada urusan akhirat. Ustadz Latief Al Imami dan para pengurus juga sangat memperhatikan kesejahteraan jasmani para santri. Setiap akhir kegiatan, seluruh santri dibagikan nasi kotak dan kue untuk mengembalikan energi setelah belajar.
Lebih dari itu, sebagai bentuk kepedulian sosial di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, setiap bulan sekali mereka secara rutin mendapatkan bantuan sembako.
“Ini adalah bentuk pengabdian kita kepada mereka yang telah tua. Jangan sampai mereka meninggal dalam keadaan buta huruf Al-Qur’an. Semangat mereka luar biasa, bahkan para lansia ini lebih rajin daripada santri remaja pada umumnya,” ujar Ustadz Latief Al Imami dengan haru.
Pesantren Lansia Al Ishlah pun menjadi bukti nyata bahwa jalan menuju surga tidak pernah menutup pintunya bagi siapa pun, di usia berapa pun.





