Yang Penting Usholli dan Usaha: Pesan Adat Sejalan Nilai Agama

METRO | LAMPUNGKU.COM – Gedung Sesat Agung Kota Metro, Lampung menjadi tempat yang ditakdirkan Allah untuk akad nikah adik sepupu saya, Desi Ervina Sari, SH dengan Achmad Yusril, SH.

Di tengah riuh rendah suasana akad nikah dan pesta pernikahan yang digelar Sabtu, (18/4/2026) ada satu kalimat yang hampir selalu hadir dalam setiap pesan yang disampaikan tokoh adat, sederhana namun sarat makna: “Yang penting usholli dan usaha.”

Kalimat itu bukan sekadar pelengkap sambutan, bukan pula basa-basi yang diucapkan tanpa arti. Ia adalah simpul nilai—warisan lisan yang terus hidup dari generasi ke generasi masyarakat Lampung.

Pesan itu mengalir hangat dari pihak keluarga. Abdul Halim gelar Pengiran Batang Hari, yang mewakili keluarga besar pihak wanita, mengawali sambutannya dengan pantun yang disambut senyum para hadirin:

Kuterima kamu menantu,
insya Allah jadi pusaka,
shalat kamu lima waktu,
doakan orang tua.

Pantun ini sederhana, tetapi mengandung pesan yang dalam. Tentang penerimaan, harapan, dan yang paling utama—tentang shalat sebagai pondasi hidup rumah tangga.

Dalam beberapa kalimat yang Pengiran Batang Hari ucapkan saat ngobrol bersama disela-sela resepsi, ia menegaskan dengan lugas, “Adat dan agama jangan sampai misah. Saya selalu utamakan adat dan agama di setiap acara. Pesan shalat harus selalu ada.”

Ucapan itu seolah menjadi penegas dari apa yang selama ini hidup dalam masyarakat Lampung: bahwa adat bukan sekadar tradisi, tetapi jalan nilai yang menyatu dengan ajaran Islam.

Dalam falsafah hidup masyarakat Lampung dikenal prinsip Piil Pesenggiri—rasa harga diri yang dijaga melalui kehormatan, etika, dan tanggung jawab.

Nilai ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan ajaran agama, terutama dalam hal menjaga hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.

Karena itu, nasihat tentang shalat hampir tidak pernah absen dalam setiap prosesi pernikahan. Ia menjadi pesan wajib, semacam “warisan tak tertulis” yang selalu dititipkan kepada pengantin.

Bukan karena formalitas, tetapi karena keyakinan bahwa rumah tangga yang kuat harus berdiri di atas ibadah yang terjaga. Lebih jauh, banyak praktik adat Lampung yang sejatinya berjalan seiring dengan nilai-nilai Islam.

Dalam prosesi pernikahan, misalnya, ada tahapan musyawarah keluarga sebelum akad. Keputusan diambil bersama, mencerminkan nilai musyawarah yang juga diajarkan dalam Islam. Tidak ada keputusan sepihak, karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi dua keluarga besar.

Tradisi pemberian mahar juga menunjukkan keselarasan itu. Dalam adat Lampung, mahar bukan sekadar simbol, tetapi bentuk tanggung jawab dan penghormatan kepada perempuan—sejalan dengan ajaran Islam.

Ada pula budaya ngakuk muli (meminang) yang dilakukan dengan penuh adab dan menjaga kehormatan. Tidak ada pendekatan yang melanggar norma, karena sejak awal hubungan dibangun dengan niat baik dan cara yang baik—sebuah nilai yang sangat dijunjung dalam Islam.

Dalam kehidupan sosial, semangat sakai sambayan atau gotong royong menjadi ciri khas. Ketika ada hajatan, warga datang membantu tanpa pamrih. Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam tentang tolong-menolong dalam kebaikan.

Bahkan dalam hal sederhana seperti menyambut tamu, masyarakat Lampung menjunjung tinggi keramahan. Tamu diperlakukan dengan hormat, dijamu sebaik mungkin—sebuah ajaran yang juga ditekankan dalam Hadits Nabi Muhammad tentang memuliakan tamu.

Di tengah semua itu, pesan tentang shalat tetap menjadi inti. Ia bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi dianggap sebagai penjaga arah kehidupan keluarga. Shalat diyakini mampu menghadirkan ketenangan, meredam konflik, dan mengingatkan manusia pada tujuan hidupnya.

Maka ketika Abdul Halim gelar Pngiran Batang Hari menyampaikan pantunnya, ia sejatinya tidak hanya berbicara kepada dua mempelai. Ia sedang menghidupkan kembali nilai yang sudah lama dijaga: bahwa dalam kehidupan, usaha harus berjalan seiring dengan doa, dan adat harus tetap berpijak pada agama.

Menariknya, pesan ini tidak pernah terasa berat. Ia disampaikan dengan cara yang hangat—melalui pantun, nasihat ringan, atau kalimat sederhana yang mudah diingat. Justru di situlah kekuatannya. Nilai besar dibungkus dengan bahasa yang dekat dengan keseharian.

Barangkali, di situlah letak kekuatan masyarakat Lampung. Mereka tidak hanya menjaga adat dalam bentuk seremonial, tetapi juga mempertahankan ruh di dalamnya. Adat menjadi jembatan, agama menjadi arah.

Dan selama pesan seperti itu terus disampaikan—di pelaminan, di tengah keluarga, di setiap awal kehidupan baru—maka adat dan agama tidak akan pernah berpisah dan adat harus sejalan dengan nilai-nilai agama.

Barokallahu laka Wa Baroka Alaika Wa Jama’a Baynakuma Fii Khair untuk Desi dan Yusril. Selamat juga untuk Pak Ami Johansyah TH, Mami Zelda, SPd bersama keluarga besar Yusril, Drs. M. Khairi (Alm) dan R.A Srinurlela, P. SPd.

Jangan lupa pesan Ayah Abdul Halim Gelar Pengiran Batang Hari: “Yang penting usholli dan usaha.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *