Hadirkan Kaskoarmada RI, Studium Generale STISA ABM Bahas Bela Negara di Era Digitial

BANDAR LAMPUNG |LAMPUNGKU.COM — Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah Bin Mas’ud (STISA ABM) Online menggelar Studium Generale bertema “Bela Negara di Era Digital: Meneguhkan Solidaritas Kebangsaan dan Peran Generasi Muda dalam Menjaga Ketahanan Bangsa”, Ahad (27/9/2026) di Balai Keratun Kantor Gubernur Lampung.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Dosen STISA ABM Online Dr. (Cand) Rd. Roro Atmim Nurona, M.Pd., mewakili Pangkoarmada RI, Kaskoarmada RI Laksamana Muda TNI Heri Triwibowo, SE, M.Si., serta Kabid Poldagri Badan Kesbangpol Provinsi Lampung Heriza Kurniawan, SH, M.IP mewakili Wakil Gubernur Lampung serta diikuti peserta dari sivitas akademika STISA ABM Online.

Bacaan Lainnya

Dalam kegiatan tersebut, Ketua STISA ABM Dr. Lili Sholehuddin, M.Pd. menyoroti perkembangan ruang digital yang kini menjadi salah satu medan baru dalam menjaga ketahanan bangsa.

Menurutnya, ancaman di era digital tidak hanya berbentuk invasi fisik, tetapi juga dapat muncul melalui penyebaran disinformasi, hoaks, hingga lunturnya solidaritas sosial dan ukhuwah antaranak bangsa.

Karena itu, upaya menjaga ketahanan nasional perlu dilakukan dengan membangun kemampuan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang digital secara kritis dan bertanggung jawab.

“Menjaga ketahanan nasional dari perpecahan akibat informasi palsu menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia menilai mahasiswa STISA ABM memiliki peran strategis dalam bela negara, termasuk melalui kontribusi dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi digital.

Sementara itu, Pembina Utama STISA ABM Online, Dr. (Cand) Yakhsyallah Mansur, MA, menekankan pentingnya mengelola keberagaman sebagai kekuatan bangsa.

Menurut Yakhsyallah, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk meninggalkan penyakit sosial berupa kesombongan identitas yang menjadikan perbedaan bangsa, suku, maupun nasab sebagai ukuran kemuliaan.

“Manusia mempunyai perbedaan nasab, tetapi itu tidak boleh menjadi ukuran kemuliaan. Ukuran kemuliaan adalah ketaatan dan ketakwaan kepada Allah,” katanya.

Ia mengatakan, bangsa yang sehat bukan bangsa yang menghapus perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan tersebut menjadi energi untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, lanjutnya, negara membutuhkan modal sosial berupa rasa saling percaya, gotong royong, rasa senasib, solidaritas, serta sikap mendahulukan kepentingan orang lain.

Yakhsyallah juga menegaskan bahwa Islam tidak melarang kecintaan terhadap keluarga, daerah, suku maupun bangsa. Kecintaan tersebut merupakan bagian dari fitrah manusia.

Namun, kecintaan itu tidak boleh berubah menjadi fanatisme kelompok yang membenarkan segala tindakan, termasuk ketika kelompoknya berada di pihak yang salah.

“Mencintai bangsa sendiri bukan berarti membenarkan setiap kesalahan. Begitu juga cinta terhadap organisasi bukan berarti membenarkan semua yang dilakukan organisasi,” tegasnya.

Menurut dia, loyalitas terhadap kelompok harus tetap didasarkan pada kebenaran. Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam membangun solidaritas kebangsaan yang sehat.

“Di sinilah slogan Hubbul Wathan Minal Iman menemukan relevansinya,” ujarnya.

Studium Generale tersebut menjadi bagian dari upaya STISA ABM Online membangun kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya bela negara di tengah perubahan lingkungan strategis, khususnya perkembangan teknologi informasi dan ruang digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *