LAMPUNG SELATAN | LAMPUNGKU.COM – Langit Rabu (27/5/2026) pagi itu masih diselimuti cahaya lembut ketika ribuan jamaah mulai berdatangan ke Lapangan Gaza, Muhajirun Negararatu Natar Lampung Selatan untuk menunaikan Salat Idul Adha. Dari kejauhan, suasana lapangan tampak berbeda dari biasanya.
Di antara hamparan sajadah yang dibentangkan jamaah, warna merah, hijau, hitam, dan putih mendominasi sudut-sudut shaff. Beberapa orang mengenakan peci bermotif kafiyeh Palestina, ada juga syal yang mengalun di leher-leher jamaah yang sebagiannya merupakan santri Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Natar.
Ponpes Al-Fatah Natar dikenal sebagai pesantren baik santri maupun masyarakat sekitarnya selalu menggelorakan semangat pembebasan Masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina. Tak terhitung jumlah Imaam Masjid Al-Aqsha, Ulama Palestina, dan Duta besar Palestina untuk Indonesia berlalu lalang mengunjungi pesantren yang memiliki fasilitas pendidikan mulai dari PAUD sampai perguruan tinggi ini.
Nuansa Palestina terasa begitu kuat bahkan sebelum takbir pertama dikumandangkan. Seorang bapak paruh baya tampak menenteng sajadah bermotif Masjid Al-Aqsha sambil menggandeng cucunya menuju shaff depan. Di dekat pintu masuk, sekelompok pemuda mengenakan syal Palestina yang melingkar di leher mereka.
Tidak ada instruksi resmi agar jamaah memakai atribut tertentu, tetapi pagi itu solidaritas tumbuh dengan sendirinya, seolah ada kesadaran bersama bahwa Idul Adha tahun ini bukan hanya tentang kurban, melainkan juga tentang kemanusiaan.
Lapangan Gaza pagi itu seperti menjelma ruang pertemuan antara ibadah dan empati. Sesuai dengan namanya, lapangan ini memang dinamakan Gaza oleh tokoh masyarakat setempat beberapa tahun lau untuk terus mengingatkan masyarakat pesantren akan hubungan persaudaraan yang erat dengan Palestina.
Takbir menggema dari pengeras suara, disambut ribuan jamaah yang melafalkan pujian kepada Allah. Angin pagi sesekali mengibaskan bendera kecil yang dibawa seorang anak di belakang shaff tempat saya duduk. Bocah laki-laki berumur kurang lebih tiga tahun duduk di samping ayahnya sambil menggenggam erat bendera Palestina.
Zaid Abdurrahman Masanaru, bersama ayahnya Isa Ansharullah. Hampir di setiap momen baik Idul Fitri maupun Iedul Adha, Isa selalu membawa bendera Palestina saat shalat sebagai pengingat baginya, keluarga dan juga seluruh umat Islam.
“Saya bawa bendera Palestina supaya anak-anak sadar setiap kali kita lebaran harus selalu mengingat saudara kita di Gaza Palestina,” ujarnya lirih saat ditanya alasan membawa bendera itu. Jawaban sederhana itu justru membuat suasana terasa semakin haru.
Ketika Salat Id dimulai pukul 06.50 WIB, lapangan mendadak khusyuk. Ribuan orang bersujud dalam satu arah, menghadap kiblat yang sama. Di pagi penuh gema takbir itu, pesan tentang persaudaraan umat terasa begitu nyata.
Usai salat, khutbah Idul Adha menjadi bagian yang paling menyentuh. Khatib, Ustadz Ihin Sholihin, SPd.I membuka khutbah dengan mengingatkan bahwa Idul Adha adalah momentum menghadirkan kembali nilai pengorbanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.
Namun pagi itu, khutbah tidak hanya berbicara tentang ibadah kurban. Khatib membawa jamaah pada pesan yang lebih luas tentang persatuan umat Islam dan pentingnya menjaga kehormatan Masjid Al-Aqsha serta kepedulian terhadap saudara-saudara muslim yang tertindas, khususnya di Palestina.
“Ka’bah dan Masjid Al-Aqsha adalah warisan para nabi yang harus dijaga kehormatannya,” ujar khatib dengan suara tenang namun tegas.
Ia menjelaskan hubungan sejarah antara Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsha sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah ﷺ bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun empat puluh tahun setelah Ka’bah. Keduanya menjadi simbol tauhid dan persatuan umat Islam di seluruh dunia.
Suasana lapangan mendadak hening. Jamaah menyimak setiap kalimat yang disampaikan khatib. Beberapa orang tampak menundukkan kepala. Ada yang memejamkan mata ketika khatib membacakan ayat tentang keberkahan Masjid Al-Aqsha yang disebut langsung dalam Al-Qur’an pada peristiwa Isra Mi’raj.
“Menjaga kehormatan Masjid Al-Aqsha merupakan bagian dari menjaga syiar Allah dan warisan para nabi,” lanjutnya. Kalimat itu terasa menggema di tengah lapangan yang sejak pagi dipenuhi simbol-simbol Palestina.
Khatib juga mengingatkan bahwa ibadah haji dan kurban sejatinya mengajarkan persatuan dan kepedulian sosial. Di Tanah Suci, kata dia, seluruh manusia mengenakan pakaian ihram yang sama tanpa memandang status sosial, suku, maupun bangsa.
“Islam mempersatukan manusia dalam satu kalimat tauhid,” katanya. Pesan itu terasa begitu relevan dengan kondisi dunia hari ini ketika banyak umat Islam tercerai-berai oleh konflik dan perpecahan.
Dalam khutbahnya, khatib beberapa kali menyinggung Palestina sebagai luka bersama umat Islam. Ia menyampaikan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar berita yang lewat di layar telepon genggam, melainkan bagian dari tanggung jawab moral seluruh umat.
“Luka mereka adalah luka umat Islam seluruhnya,” ucapnya. Kalimat itu membuat suasana lapangan semakin emosional.
Saya menyeka air mata ketika khatib membacakan hadis Rasulullah ﷺ tentang persaudaraan kaum mukminin yang diibaratkan seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan penderitaan. Terbayang wajah saudara-saudara di Palestina.
Di bagian lain khutbah, khatib juga mengingatkan bahwa kurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme, sifat bakhil, dan ketidakpedulian terhadap sesama manusia.
“Jangan sampai kita hidup dalam kenyang sementara saudara-saudara kita hidup dalam kelaparan dan ketakutan,” katanya. Beberapa jamaah mengangguk pelan.
Pagi itu, Palestina tidak hanya hadir lewat bendera dan atribut yang dikenakan jamaah. Palestina hadir dalam doa-doa yang dipanjatkan dengan suara bergetar.
Di penghujung khutbah, khatib secara khusus memimpin doa untuk rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsha. “Ya Allah, jagalah Masjid Al-Aqsha dari kezaliman para penjajah. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina,” ucapnya.
Ribuan jamaah serempak mengaminkan. Suara “aamiin” menggema panjang di Lapangan Gaza, menyatu dengan angin pagi dan gema takbir yang belum benar-benar reda.
Beberapa orang terlihat berkaca-kaca. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi saat doa dipanjatkan. Zaid Abdurrahman Masanaru, si kecil di shaff ketiga bersama ayahnya Isa bahkan tetap menggenggam bendera Palestina sambil mengikuti doa dengan wajah polosnya.
Usai khutbah, jamaah mulai saling bersalaman dan berpelukan. Anak-anak kembali berlarian di pinggir lapangan. Namun suasana haru masih terasa kuat.
Seorang relawan kemanusiaan, Hidayatullah yang pernah berada di Gaza Palestina lebih dari tiga tahun, turut hadir di lapangan mengatakan bahwa simbol Palestina yang muncul di tengah perayaan Idul Adha bukan sekadar bentuk simpati sesaat.
“Ini bentuk kepedulian bahwa umat Islam itu satu tubuh, dan kita Umat Islam saat ini masih punya PR, Gaza Palestina yang hingga saat ini pun masih dihujani peluru oleh tentara laknat Zionis Israel,” katanya.
Di tengah dunia yang sering cepat melupakan tragedi kemanusiaan, Lapangan Gaza pagi itu menghadirkan pemandangan yang sulit dilupakan. Idul Adha bukan hanya menjadi ritual tahunan, melainkan ruang untuk menghidupkan kembali rasa persaudaraan, pengorbanan, dan keberpihakan pada mereka yang tertindas.
Dan pagi itu, dari sajadah Palestina yang terbentang, kafiyeh yang dikenakan jamaah, hingga bendera kecil yang digenggam anak-anak, Lapangan Gaza seperti sedang menyampaikan satu pesan yang sama, Palestina masih hidup di hati banyak orang. AL-AQSA HAQQUNAA.





