KALIANDA | LAMPUNGKU.COM – Penguatan kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya melalui koordinasi antarlembaga. Upaya tersebut harus diikuti dengan edukasi dan simulasi langsung kepada masyarakat agar mereka memahami potensi bahaya, mengetahui langkah penyelamatan diri, serta mampu bertindak tepat ketika bencana terjadi.
Hal tersebut ditegaskan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, saat menerima audiensi Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Lampung, Deden Ridwansyah, di rumah dinas bupati setempat, Selasa (3/11/2026).
Menurut Egi, kesiapan sarana dan prasarana pendukung juga perlu menjadi perhatian. Ia meminta agar seluruh peralatan mitigasi dan penanganan bencana dipastikan berfungsi dengan baik sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu dalam kondisi darurat.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan dari tingkat masyarakat, Egi mengungkapkan rencana pengembangan program Masyarakat Tanggap Bencana (Mastana) pada 2027. Melalui program tersebut, masyarakat akan mendapatkan pembekalan berupa edukasi, pelatihan, dan simulasi mitigasi terhadap berbagai potensi bencana sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Sebelumnya, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Lampung, Deden Ridwansyah, menyampaikan bahwa audiensi tersebut bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat koordinasi terkait wilayah kerja Basarnas di Lampung Selatan.
Ia menyebut, kondisi geografis Lampung Selatan memiliki sejumlah kerawanan bencana yang perlu diantisipasi bersama. Selain banjir dan tanah longsor saat musim hujan, wilayah ini juga menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami, serta dinamika aktivitas Gunung Anak Krakatau dan aktivitas penyeberangan 24 jam.
Deden menegaskan, penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan satu pihak saja. Karena itu, diperlukan sinergi antara Basarnas, pemerintah daerah, dan masyarakat, termasuk melalui pengembangan Desa Tangguh Bencana dan Kampung Rescue.
Menanggapi itu, Bupati Egi menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang selama ini berjalan baik dengan Basarnas dan menyatakan Pemkab Lampung Selatan selalu terbuka terhadap kolaborasi.
Selain Gunung Anak Krakatau, ia juga menyoroti risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang perlu diantisipasi.
Egi turut menekankan pentingnya kesiapan jalur evakuasi yang memiliki arah jelas, mudah diakses, dan didukung infrastruktur jalan yang memadai agar proses penyelamatan tidak menyulitkan masyarakat.
Melalui penguatan koordinasi dengan Basarnas, Pemkab Lampung Selatan berharap kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana semakin optimal melalui sinergi antarlembaga, kesiapan sarana prasarana, dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Sumber: lampungselatankab.go.id





